
KEWASPADAAN TERHADAP PENYAKIT TERDUGA LEPTOSPIROSIS
Oleh: dr. Isti Alfradiantina, M.Kes. *
Sejak bulan Januari samapai dengan tanggal 26 Maret 2016, Puskesmas Girimulyo II telah merawat 19 orang penderita terutama dari Pedukuhan Kembang dan Pedukuhan Gunung Kelir dengan keluhan: nyeri kepala (penderita sering menyebutnya sebagai pusing), demam, menggigil, mual sampai muntah, kadang kulit kemerahan, mata kemerahan sampai merah (biasanya tanpa belek), kadang mata kekuningan, nyeri otot (disebutnya nyeri tengkuk/ punggung/boyok/kémpol).
Riwayat penderita setelah menerobos genangan air hujan, bekerja dengan/di dekat air sungai, atau bersih-bersih gudang atau belukar yang mungkin ada limbah tikus ataupun manusia yang terjangkit leptospirosis dengan atau tanpa menjadi sakit.
Pada pemeriksaan laboratorium darah menunjukkan jumlah trombosit turun (bisa pada awal sakit sampai pada fase bahaya pertama) dan pada pemeriksaan urine dengan mikroskop ditemukan kristal menyerupai batang. Secara kasat mata urine berwarna keruh (fase awal), kemerahan (fase awal biasanya bersama trombosit yang turun) sampai kehitaman (fase bahaya ke-2).
Kecamatan Girimulyo sampai saat ini bukan daerah endemis Demam Berdarah Dengue (DBD), jadi trombosit yang turun tetap dijadikan kasus terduga (suspect) Leptospirosis.
Proses penyakit lepto memiliki 2 puncak sakit seperti juga DBD:
Kasus 1, penderita yang kontrol rawat jalan pasca rawat inap di puskesmas 4 hari, merasa belum sehat. Saat di cek laboratorium ulang hasilnya urine mengandung bakteri dan tes antibodi leptospirosis positif. Sehingga pengobatan diperpanjang. Saat ini beliau mulai sehat dan aktif lagi.
Perlu diketahui pemeriksaan darah utk menegakkan diagnosis leptospirosis sering tidak positif di awal sakit karena antibodi perlawanan seringkali belum muncul, sehingga puskesmas akhirnya memeriksa tes lepto setelah 2 minggu sejak pasien dipulangkan (tes lepto mungkin masih positif sampai bulan ke 8). Tes lepto yang positif tidak berhubungan dengan penularan lewat air kemih penderita. Justru fase awal lah yang urinnya mengandung bakteri dan sering terabaikan.
Jadi bagi kita semua selaku masyarakat lakukan hal-hal berikut:
- Stop Buang Air Besar dan Air Kecil Sembarangan
- Pastikan selalu mempergunakan jamban sehat.
- Sebisanya hindari kontak dengan genangan air kotor / air sungai.
- Segera berobat ke Puskesmas demi mendapat penanganan sedini mungkin. Bahaya bila terabaikan: perdarahan paru pada fase awal (sangat jarang tapi dapat mematikan) dan gagal ginjal (pada fase kedua lanjut)
Ingatkan keluarga dan sekitar atas bahaya penyakit ini, waspada bukan menjadi resah.
-Pesan Layanan Masyarakat Puskesmas Girimulyo II untuk Girimulyo Sehat Mandiri dan Kulon Progo Saras
*) : Kepala Puskesmas Girimulyo II.