Menyusui dan berat badan ibu
Pemberian ASI tak lepas dari tatanan budaya. Di dalam buku Kehamilan, Kelahiran, Perawatan lbu dan Bayi, Dalam Konteks Budaya (Meutia F. Swasono, editor, 1997) dituturkan berbagai gambaran perilaku menyusui pada masyarakat yang diteliti. Penuturan para antropolog yang melakukan penelitian dan menuliskan hasilnya dalam buku ini mengungkap adanya perhatian dan perlakuan khusus terhadap ibu dalam masa kehamilannya, saat persalinan, dan pasca persalinan.
Perilaku dibentuk oleh kebiasaan, yang bisa diwarnai oleh adat (budaya), tatanan norma yang berlaku di masyarakat (sosial), dan kepercayaan (agama). Perilaku umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba, namun dari proses yang berlangsung selama masa perkembangan. Setiap orang selalu terpapar dan tersentuh oleh kebiasaan di lingkungannya serta mendapat pengaruh dari masyarakat, baik secara langsung maupun tak langsung. Pemahaman terhadap latar belakang sosial, budaya, agama, dan pendidikan seseorang akan lebih memudahkan upaya mengenal perilaku dan alasan yang mendasarinya.
Membantu ibu agar bisa menyusui bayinya dengan benar memerlukan pemahaman tentang perilaku ibu, keluarganya, dan lingkungan sosial budayanya dalam hal menyusui. Apa yang mereka mengerti tentang ASI? Apa pendapat suami istri yang baru dikaruniai anak itu tentang menyusui? Apa kata keluarganya (orang tua, mertua, ipar) tentang ASI? Apa pula kata tetua adat tentang ASI? Bagaimana pula pendapat orang-orang di sekitarnya tentang menyusui? Apakah mereka mendukung ASI, tidak peduli, atau justru menghalangi pemberian ASI. Perawatan ini perlu agar bisa lebih mengetahui alasan ibu untuk menyusui atau tidak menyusui.
Dalam rangka pemahaman itu kita simak penuturan Adji tentang kebiasaan menyusui bayi di Desa Kemantan Kebalai, Kabupaten Kerinci, Jambi. Penuturan ini didasarkan pada pengamatannya selaku antropolog dan dituliskannya dalam buku Kehamilan, Kelahiran, Perawatan lbu dan Bayi, Dalam Konteks Budaya.
Bayi baru disusui bila air susu ibunya telah berwarna putih, yakni setelah colostrum dibuang. Seperti juga di Trunyan, Bali, colostrum dibuang karena dianggap menyebabkan bayi sakit perut (seperti dikutip dari Danandjaja, 1980). jadi, sebelum susu yang sebenarnya keluar, bayi diberi makanan pengganti. Di Kerinci, Jambi, sebelum susu ibu keluar, bayi diberi makan roti yang telah dilumatkan atau teh bergula. Keluarga yang mampu kadang-kadang memberinya manis lebah madu.
Tidak terdapat tempat dan saat yang khusus antuk menyusui, kecuali atas alasan kesopanan, artinya tidak di tempat yang terlihat umum, dan ketika bayi mulai menangis karena lapar. Selain itu, setiap kali hendak menyusui, ibu tidak merasa perlu membersihkan dirinya atau payudaranya dahulu, karena hal itu dianggap terlalu merepotkan. Begitu pula, menurut anggapan para wanita setempat, "sekotor-kotornya payudara ibu, tidak pernah bayi memperoleh penyakit darinya."
Perilaku membuang colostrum atau susu jolong, dan tidak membersihkan payudara seperti kutipan di atas jelas berbeda dengan anjuran petugas kesehatan. Kolostrum dianjurkan untuk diberikan dan ibu disarankan untuk membersihkan payudaranya dulu sebelum menyusui. Apakah perilaku ini bisa diubah? Penelitian dua antropolog di Bandaneira, Kabupaten Maluku Tengah, menunjukkan bahwa penyuluhan puskesmas menghasilkan perubahan perilaku. Swasono dan Soselisa, kedua antropolog menuturkan,
Makanan utama bagi bayi adalah air susu ibu (ASI). Kolostrum diberikan setelah terdapat penyuluhan dari puskesmas, dan jika air susu ibu susah keluar, dada ibu akan diurut oleh mak biang (dukun bayi tradisional).
Praktek pemberian ASI segera, setelah bayi lahir juga dikenal pada masyarakat tradisional. Kebiasaan ini terungkap dari hasil studi antropologi yang dilakukan oleh Alwy terhadap masyarakat terasing To Bunggu, Sulawesi Selatan. Penuturannya tentang ritual pada saat kelahiran bayi dikutipkan di sini untuk dapat memberikan gambaran lengkap mengenai pemberian ASI pada masyarakat To Bunggu.
Usai memotong tali pusar, bayi lalu dimandikan oleh dukun beranak. la diletakkan di kaki dukun yang duduk dalam posisi kaki diluruskan ke depan. la kemudian memercikkan air sedikit demi sedikit ke tubuh bayi, yang dimulai dari bagian kepala (vwo'o). Menurut keterangan warga, memandikan dimulai dari kepala karena kepala merupakan bagian pertama dari tubuh yang menghirup udara, sebagai pusat hidup manusia sehingga harus didahulukan. Setelah dianggap bersih, bayi dibedung (nibado), kemudian diberikan pada ibu untuk disusui.
Alwy juga menuturkan perilaku terhadap kolostrum, rupanya hampir sama dengan penuturan Adji tentang masyarakat di daerah Kerinci, Jambi dan Danandjaja tentang kebiasaan masyarakat daerah Trunyan, Bali.
Pada masyarakat To Bunggu, air susu ibu umumnya keluar beberapa jam setelah kelahiran. Untuk mengatasi hal itu, maka ibu jari tangan kanan (katumpu pale) bayi dimasukkan ke dalom mulutnya sebagai pengganti air susu ibu. Perbuatan itu didasarkan pada kepercayaon bahwa katumpu pale telah menjadi makanan bayi sejak ia berada dalam kandungan. Kolostrum (uvwe bakuna atau puluna) sang ibu harus dibuang sebelum menyusui bayi, karena hal itu dianggap dapat membuat sakit perut bayi.
ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja sejak bayi dilahirkan sampai sekitar usia 6 bulan. Selama itu bayi tidak diharapkan mendapatkan tambahan cairan lain seperti susu formula, air jeruk, air teh, madu, air putih. Pada ASI eksklusif, bayi juga tidak mendapat makanan lain seperti pisang, biskuit, bubur susu, bubur nasi, tim, dan sebagainya, sampai bayi berumur enam bulan. Pemberian ASI secara benar akan dapat mencukupi kebutuhan bayi sampai usia eam bulan, tanpa makanan pendamping. Di atas usia enam bulan, bayi perlu makanan tambahan tetapi pemberian ASI dapat dilanjutkan sampai berumur dua tahun.
Bagaimana perilaku masyarakat secara tradisional dalam hal pemberian makanan tambahan untuk bayi? Kutipan hasil studi antropologi berikut ini kiranya dapat memberikan gambaran untuk bisa memahami perilaku masyarakat di daerah penelitian. Swasono dan Soselisa dalam studinya di Bandaneira, Maluku Tengah.
Pada umumnya bayi diberi ASI hingga berusia 1.2 tahun. Penyapihan dapat menjadi lebih cepat apabila ibu berada dalam kondisi tidak sehat. Sebagai pengganti ASI dapat diberikan teh manis serta makanan tambahan. Orang Bandaneira juga menggunakan susu kaleng sebagai makanan tambahan bayi maupun sebagai pengganti ASI jika keadaan memaksa susu kaleng dapat dibeli di toko-toko dekat pelabuhan, namun pembeliannya tidak selalu rutin, karena tergantung dari tingkat kemampuan ekonomi dari masing-masing orang tua bayi.
Selain ASI, makanan tambahan bagi bayi yang banyak tersedia dalam lingkungan setempat adalah pisang dan bubur nasi. Tim sayuran juga diberikan setelah bayi berusia lebih dari tiga bulan.
Kebiasaan memberi makanan tambahan bagi bayi jug dilaporkan oleh Mufty dari hasil studi antrologinya mengenai Pengobatan, Kehamilan dan Kelahiran Pada Orang Bajo di Lasolo, Kabupaten Kendari, Sulawesi Tenggara.
Boyi mempunyai mqkanan khusus yang disesuaikan dengan perkembangan usianya. Selain air susu ibu, makanan tambahan bagi bayi adalah bubur peca, luhubakolu (labu) dan samu (sejenis buah yang rumbuh di laut).
Penelitian Alwy pada masyarakat To Bunggu mengungkapkan bahwa makanan tambahan seringkali diberikan sebagai penenang agar bayi tidak selalu menangis. Masyarakat To Bunggu tidak menetapkan umur yang pasti untuk saat bayi harus mulai diberi makanan tambahan. Perilaku bayi lebih menjadi ukuran, seperti dituturkan Alwy.
Untuk mengetahui apakah bayi sudah harus diberi makanan tambahan atau belum, masyarakat setempat menetapkan patokan yang berasal dari pengetahuan budaya mereka, yaitu "ane nogeorno naratamo tempond" ‑jika bayi sudah sering menangis ketika sedang diberi air susu ibu, maka itulah saatnya bayi sudah harus musti diberi makanan tambahan. Keadaan seperti itu umumnya mulai ditunjukkan oleh bayi pada saat ia berusia dua minggu hingga dua bulan.
Bubur nasi (ose nipeka) yang ditanak bersama jagung halus adalah jenis makanan tambahan yang diberikan kepada bayi. Setelah bubur matang, ibu menghaluskannya dengan sendok, yang dilakukan di atas piring. Makanan ini diberikan dua kali dalam sehari. Makanan tambahan lainnya adalah ubi jalar (‘ntoku) dan pisang (loka). Kedua jenis makanan ini berbeda cara menghaluskannya dengan bubur nasi dan jagung. Mirip seperti pemberian nasi pakpak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, ‘ntoku atau loka dihaluskan oleh ibu dengan cara mengunyahnya (nipama). Setelah dianggap halus barulah makanan itu disuapkan ke mulut bayi dengan menggunakan tangan, sedikit demi sedikit.
Studi antropologi yang dilakukan Pratiwi mengenai Pandangan Budaya Dalam Sistem Perawatan Bayi di Pulau Lombok menggambarkan persepsi budaya masyarakat yang melatarbelakangi perilaku tersebut.
Penduduk setempat sering menganggap bahwa air susu ibu tidak cukup membuat bayi cepat besar dan kuat. Karena itu makanan tambahan diberikan pada usia bayi yang sangat dini. Pada usia tiga hari kelahirannya, ia sudah diberi nasi pakpak, ialah nasi yang sudah dikunyah dulu oleh sang ibu hingga agak lembut, Ialu disuapkan pada bayi.
Pemberian makanan tambahan bagi bayi tidak hanya memenuhi kebutuhan biologisnya semata, tetapi juga mengandung makna simbolis.
Pemberian nasi ini disertai dengan makna simbolik sebagai lambang kasih sayang ibu agar sifat baik ibu menurun padanya. Walaupun nasi tidak disarankan oleh petugas kesehatan untuk diberikan sebagai makanan tambahan bagi bayi di bawah usia empat bulan, masyarakat setempat menganggapnya sebagai hal yang baik. Menurut mereka, "apa yang keluar dari mulut inaq-nya adalah hal yang baik, nasi juga baik karena keluar dari mulut inaq-nya, selain itu kelak bila sudah besar, anak akan patuh pada orang tuanya."
Tampaknya pemberian nasi pakpak bukan hanya sekedar makanan tetapi juga mengandung harapan orangtua terhadap kesehatan bayinya.
Nasi pakpak ini tidak terus menerus diberikan pada bayi setiap harinya, namun ada pandangan bahwa bila bayi tidak diberi nasi pakpak pada usia dini, ia tidak akan tumbuh menjadi besar dan kuat sebagaimana yang diharapkan.
Di Jakarta, kota metropolitan ini, perilaku memberikan makanan tambahan kepada bayi secara tradisional masih berlangsung. Gularso, dalam penelitiannya selaku antropolog, menuturkan kebiasaan itu dalam tulisannya tentang Kelahiran Anak Dalam Tradisi Orang Betawi di Desa Ragunan, Jakarta Selatan.
Pada umumnya warga desa sudah mulai memperkenalkan nasi kepada bayinya sejak usia satu hari. Pada usia satu hari itu, setelah makan kelapa muda yang masih berbentuk lendir, si bayi akan diberi nasi uleg yang terdiri dari nasi dan pisang siam kukus yang dilumatkan menjadi satu, sambil menanti keluarnya air susu ibu, yang merupakan makanan tambahan pokok bayi dan anak-anak kecil di masyarakat desa ini. Air susu ibu sangat penting dalam kehidupan bayi dan anak-anak mereka. Karena itu seorang ibu yang menyusui dianjurkan untuk tidak memakan jenis makanan yang berbau anyir dan yang pedas, dan dianjurkan untuk makan daun pepaya serta memakan banyak daun katuk, agar air susunya bisa keluar banyak sehingga mencukupi kebutuhan bayinya.
Penelitian Gularso mengungkapkan kebiasaan memberi makanan tambahan. Usia bayi ketika mendapat makanan tambahan adalah berbeda dan makanan tambahannya juga beragam, seperti pisang ambon, nasi uleg, bubur saring, nasi tim, bubur dari tepung beras dengan gula kelapa (semacam bubur sumsum di Jawa), biskuit, susu kaleng atau nasi biasa.
Tempat untuk menyusui tidak diatur khusus. Ibu bisa saja menyusui di depan rumah, di warung, sambil berbelanja, atau melakukan kegiatan lain tanpa merasa malu terhadap orang di sekitarnya. Kebiasaan di masyarakat Betawi yang diteliti oleh Gularso ini berbeda dengan kebiasaan masyarakat di Desa Kemantan Kebalai, Kabupaten Kerinci, Jambi. Mereka berharap bahwa ibu tidak menyusui di tempat yang terlihat umum dengan mempertimbangkan alasan kesopanan.
Lingkungan menjadi faktor penentu kesiapan dan kesediaan ibu untuk menyusui bayinya. Tatanan budaya cukup berpengaruh dalam pengambilan keputusan ibu untuk menyusui atau tidak menyusui. Pengalaman dalam keluarga ibu tentang menyusui, pengalaman ibu, pengetahuan ibu dan keluarganya tentang manfaat ASI, dan sikap ibu terhadap kehamilannya (diinginkan atau tidak), sikap suami dan keluarga lainnya berhadap menyusui, sikap tenaga kesehatan yang membantu ibu bisa berpengaruh besar terhadap pengambilan keputusan untuk menyusui atau tidak. Persepsi ibu tentang dirinya, pandangan ibu tentang payudaranya, penghayatan ibu terhadap ke-ibuan-nya merupakan unsur utama yang menentukan keberhasilan pemberian ASI. Kemampuan ibu untuk secara mandiri dalam mengambil keputusan juga penting. Apakah hal itu dimungkinkan oleh latar belakang sosial budaya dan agamanya? Siapa yang lebih menentukan dalam pengambilan keputusan? Apakah dia pro-ASI atau sebaliknya? Latar belakang inilah yang harus dipelajari sebelum memberikan dorongan kepada ibu agar menyusui bayinya.
Sumber: Buku Manajemen Laktasi Dinkes K P