Mitos Tentang Tinggi Badan

 

Ada beberapa anggapan umum yang berkaitan seputar tinggi badan. Sebagian ada yang benar, tapi sebagian lagi hanya mitos belaka.

Orang Asia (termasuk Indonesia) Lebih Pendek Dari Orang Eropa dan Amerika.

Ketimbang orang kulit putih pada umumnya orang Asia lebih pendek. Selain karena faktor genetik, tinggi badan dipengaruhi oleh nutrisi dan lingkungan.  Sedangkan nutrisi dipengaruhi oleh pola makan yang berhubungan erat dengan tingkat ekonomi. Kita tahu bahwa sebagian besar negara di Eropa dan Amerika adalah  negara kaya berbeda jauh dengan negara di Asia yang sebagian besar masih berkembang. Tingginya angka kemiskinan dan kesakitan menjadi penyebab banyaknya kasus kurang gizi pada anak-anak Asia yang selanjutnya berimbas pada rata-rata tinggi badan.

Tapi, bukan berarti patokan tinggi badan orang Asia tidak akan berubah. Bangsa Jepang, misalnya, sejak 20-30 tahun setelah Perang Dunia II (1942-1945) sampai sekarang, semenjak  Jepang menjadi negara maju rata-rata tinggi badannya sudah berubah. Potensi genetik bila ditambah dengan faktor gizi dan lingkungan yang baik seperti yang dialami bangsa Jepang, hasilnya akan positif.

Panjang Badan Bayi Baru Lahir Menentukan Tinggi Badannya Saat Dewasa.

Pernyataan diatas bisa ya dan tidak, karena masa kritisnya bukan setelah lahir, namun sampai anak berusia 2 tahun. Jadi jika masa dalam kandungan sampai usia anak 2 tahun anak tidak mencapai tinggi badan yang normal, maka pada periode pertumbuhan selanjutnya ia akan sulit mengejar pertumbuhan tinggi badan yang optimal. Pada bayi yang baru lahir  dengan panjang badan yang kurang, masih punya kesempatan selama 2 tahun untuk memperbaiki pertumbuhannya dengan asupan nurisi dan lingkungan yang baik.

Jika Orang Tua Bertubuh Pendek Maka Anak pun Akan Bertubuh Pendek.

Wajar saja kamu bertubuh pendek, karena bapak ibumu juga orangnya kecil, jadi kamu memang keturunan pendek dari sononya.....Mungkin sering kita dengar ucapan orang seperti diatas, karena memang banyak orang yakin bahwa tinggi badan seseorang itu disebabkan faktor keturunan.

Kenyataanya banyak anak yang tumbuh tinggi, padahal orangtuanya pendek semua. Genetik memang mempengaruhi tinggi badan seseorang, namun ada faktor lain yang sangat kuat mempengaruhi yaitu nutrisi, hormone, lingkungan dan aktivitas fisik. Pendeknya orangtua juga belum tentu karena secara genetik pendek, sangat mungkin pendeknya orangtua-orangtua kita terjadi karena dulunya pernah mengalami kurang gizi saat masa pertumbuhan.

Anda mungkin sering mendengar cerita dari para orangtua atau kakek nenek yang dilahirkan pada masa penjajahan dengan kondisi ekonomi yang sulit namun bersaudara banyak. Agar dapat bertahan hidup keluarga harus menghemat apapun termasuk makanan. Jika keluarga itu punya satu butir telur misalnya akan dibagi sejumlah anggota keluarga yang ada.

Jadi pada kondisi suatu daerah yang masih berkembang seperti Negara kita sampai saat ini faktor nutrisi justru sangat mempengaruhi pertumbuhan dibandingkan faktor lainnya. Ini penting agar kita tetap berusaha untuk memperbaiki asupan nutrisi anak-anak kita.

Jika kita hanya berasumsi pada masalah genetic atau keturunan yang memang sudah tak dapat diotak-atik lagi maka kita akan cenderung berhenti berusaha dan jangan berkata: Ya..sudahlah emang dari eyang dulu keluarga kita juga kecil-kecil, mau gimana lagi.

Anak Laki-laki Akan Bertambah Tinggi Setelah Dikhitan.

Tak ada pengaruhnya sama sekali antara khitan dan tinggi badan. Mengapa sunat diidentikkan dengan pertambahan tinggi badan? Karena umumnya anak laki-laki dikhitan menjelang masa pubertasnya. Saat itu, hormon seks (testosteron) sudah mulai diproduksi oleh tubuhnya. Jadi, bukan karena dikhitan anak jadi bertambah tinggi, tapi memang sudah waktunya ia tumbuh tinggi dengan adanya pengaruh hormon tadi.

Anak Laki-laki Lebih Tinggi Daripada Anak Perempuan.

Secara genetik anak laki-laki memang lebih tinggi ketimbang anak perempuan. Pada grafik standar perumbuhan tinggi badanpun dibedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Keduanya mempunyai kecepatan pertumbuhan yang berbeda. Ada periode dimana anak perempuan lebih tinggi daripada anak laki-laki namun saat anak laki-laki mencapai masa pubertasnya ia akan tumbuh tinggi secara lebih cepat sampai melampaui anak perempuan.

Standar tinggi badan yang tercantum dalam standar antropometri WHO 2005 untuk anak laki-laki memang lebih tinggi dibandingkan standar tinggi badan anak perempuan.

Tinggi Badan Akan Mandek Saat Remaja.

Hal ini tergantung pada masing-masing anak. Pertumbuhan tinggi badan anak laki-laki akan berhenti di usia 20 tahun. Sementara pada anak perempuan sampai usia 18 tahun. Namun, usia bukanlah patokan mati karena tinggi badan juga berkaitan dengan fase cepat pertumbuhan yang biasanya terjadi sebelum pubertas. Nah, datangnya masa pubertas bervariasi pada setiap anak. Anak laki-laki umumnya mengalami puber saat usia 9-14 tahun dan anak perempuan antara usia 8-13 tahun. Pada fase pertengahan pubertas ada istilah "pacu tumbuh". Pada anak perempuan biasanya terjadi sebelum mendapat haid pertama. Jadi, meskipun setelah mendapat haid masih terjadi pertumbuhan, kecepatannya tidaklah sepesat pertumbuhan sebelumnya. Berarti, pada anak perempuan yang lebih dini mendapat haid, ada kemungkinan tinggi badan akhirnya kurang dari target.

Pertumbuhan Tulang Berkaitan dengan Tinggi Badan.

Memang ada kaitannya. Bila terjadi gangguan atau kelainan perkembangan tulang pada anak seperti akondroplasia (kelainan bawaan dalam proses pengapuran tulang rawan), rakitis atau lainnya, maka akan terjadi hambatan pertumbuhan sehingga perawakan anak bisa tetap pendek. Adanya gangguan tulang bisa dilihat dari pemantauan secara berkala berdasarkan pengukuran tinggi badan, tinggi duduk, tinggi berdiri, panjang ekstrimitas dan lainnya.