PERTANYAAN MEMPENGARUHI EMOSI

Pertanyaan yang dilontarkan pada warga tak hanya menghasilkan informasi tapi juga emosi. Contohnya begini. Pada seorang remaja yang obesitas tenaga kesehatan bertanya, “Dik, boleh ceritakan kesusahan apa saja yang Adik alami gara-gara berat badan seperti sekarang?”

Sejurus kemudian Si Adik bercerita tentang napasnya yang sesak, baju tidak ada yang cukup, diolok-olok teman-temannya, malu dan lain sebagainya.

Dijamin yang didapat bukan hanya informasi tetapi juga perasaan sedih. Perhatikan bagaimana orang menceritakan kesusahan. Pasti dengan suara sedih, kadang gemetar. Bukan tertawa-tawa gembira.

Tapi coba tenaga kesehatan melemparkan pertanyaan lain. “Boleh Adik ceritakan bagaimana Adik berhasil menurunkan 0,3 kg ini?”

Meski 0,3 kg dalam sebulan itu bukan hasil yang menghebohkan tapi emosi yang menyertai cerita Si Adik pasti berbeda. Ada keriangan, semangat atau paling tidak, ada nada-nada positif. Mudahnya, lihat saja wajah orang kalau bercerita tentang pencapaian. Pasti beda.

Nah, untuk apa tenaga kesehatan memahami yang begini-begini?

Begini. Di awal interaksi, tenaga kesehatan kan kebanyakan menanyakan keluhan. Sakit apa? Apa yang dirasakan? Sejak kapan? Di mana? Kapan saja itu muncul? Dan lain sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan menghasilkan emosi negatif.  

Masalahnya, untuk berobat tuntas atau berubah perilaku, kebanyakan orang mesti berada dalam emosi positif. Tujuannya agar muncul semangat kuat. Harapan tinggi. Mimpi yang dekat dan lain-lain, yang meng-gas perilakunya berjalan.

Apakah dengan demikian tenaga kesehatan perlu menghindari pertanyaan-pertanyaan yang menghasilkan emosi negatif?

Bukan begitu. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kan penting untuk memahami masalah. Yang diperlukan hanyalah emosi positif di bagian akhir. Bagian ini penting agar orang memulai perilaku (misalnya, mulai pengobatan, olahraga atau lainnya) dan juga mengulangi perilaku yang barusan dilakukan (misalnya pemeriksaan, kontrol rutin, atau mengikuti sesi edukasi).

Pertanyaan penghasil emosi positif adalah pertanyaan yang menguak pengalaman lalu yang positif atau gambaran ke depan yang positif.

“Kalau sudah sembuh, mau touring ke mana lagi?”

“Hb1Ac turun banyak. Bapak bagaimana berhasil menurunkannya?”

Jadi, bertanyalah agar orang sampaikan cerita dengan emosinya sekalian. Agar muncul semangat dan harapan, kitanya tinggal mendengarkan cerita positif itu.

 Penulis  – Risang Rimbatmaja
Review by : Fivi