STIGMA TBC DAN PESAN MELEMAHKANNYA

Stigma membuat orang sakit TBC tidak ingin diketahui status penyakitnya. Sebagian jadi enggan didatangi kader pendamping atau nakes. Karena stigma pula, sebagian nakes menyamarkan dengan sebutan penyakit paru, flek, atau lainnya.

Sampai saat ini stigma TBC belum hilang meski dimensinya berbeda dengan yang berlaku beberapa dekade lalu. Demikian ditunjukkan Survei UNICEF Nielsen kwartal 4 , 2024.

Stigma TBC yang bernuansa mistis atau ghaib, yang dulu dominan, sudah melemah. Hanya 5% dari warga yang disurvei yang mendukung gagasan TBC adalah penyakit akibat guna-guna atau santet. Prosentase yang sama berlaku untuk gagasan TBC adalah penyakit orang berdosa atau terkutuk.

Stigma TBC pada kelompok tertentu juga melemah. Hanya sekitar 11% yang mendukung TBC adalah penyakit orang miskin.  Yang dominan adalah stigma bersumber pada ketakutan akan keganasan penyakit dan kemudahan penularan. Sekitar 51% setuju TBC adalah penyakit mematikan. Sementara, sekitar 33% menyatakan pasien TBC tidak mungkin bisa bekerja. Yang mengkhawatirkan, 31% mendukung gagasan orang dengan TBC agar dipisahkan/ dijauhkan dari masyarakat.

Salah satu pesan yang ditujukan untuk mengurangi stigma adalah TBC bisa diobati. Pesan ini mungkin cukup bermanfaat menetralisasi stigma guna-guna, santet atau penyakit orang berdosa atau terkutuk. Namun, pesan itu kelihatannya belum bisa mencairkan stigma keganasan dan kemudahan penularan. Apalagi, ditemukan 78% dari warga yang disurvei memahami TBC menular via udara (yang bisa bermakna penularan massif yang sulit dicegah).

Lantas, pesan apa yang bisa melemahkan, khususnya akibat keganasan dan kemudahan penularan?

Pertama perlu dikemukakan bahwa persepsi keganasan dan kemudahan penularan adalah elemen yang penting perubahan perilaku. Menghilangkan gagasan itu akan kontraproduktif. Yang perlu dilakukan adalah memberi batasan tertentu.

Dan memang tidak banyak diketahui masyarakat bila orang sakit TBC tidak terus menerus menularkan penyakit. Maksudnya, orang sakit TBC tidak perlu menunggu sampai sembuh, yang cukup lama, untuk dinyatakan aman tidak menularkan bibit penyakit. Salah satu pesan yang dapat disisipkan dalam promosi TBC adalah setelah sekian bulan waktu seseorang berobat sesuai anjuran, TBC tidak menular lagi. Untuk TBC regular, waktunya setelah 2 bulan. Penentuannya di tangan tenaga kesehatan.

Bisa juga ditambahkan pesan cara mencegah penularan yang praktis, misalnya aman berinteraksi dengan orang yang sakit TB di luar rumah, di siang hari dan lain-lain.

Terakhir, catatan side effect pesan-pesan di atas: jangan sampai menginspirasi pasien menghentikan pengobatan saat tidak menularkan bibit penyakit. Untuk ini, dibutuhkan pesan yang menjelaskan pentingnya minum obat secara tuntas. Bukan yang ilmiah tapi yang menggugah.

Penulis  – Risang Rimbatmaja
Review by : Fivi