Polling       

Jika anda sakit, kemana anda berobat ?

 

   Agenda Kegiatan       

« Dec 2018 »
M S S R K J S
25 26 27 28 29 30 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31 1 2 3 4 5

   Statistik Situs       

Visitors :2085099 Org
Hits : 4635203 hits
Month : 4799 Users
Today : 331 Users
Online : 8 Users

   Login       


Username
Password

Register
Forgot Password

   GALERY       

   SPGDT - DIY       

   INFO BED RS       

   ADDME-SEO       

Ketika " Moedik-Poelang Kampoeng " Masih Penuh Makna

Rabu, 7 September 2011 07:27:54 - oleh : Sita Heny

    May melambaikan kedua tangannya ke udara sebagai salam perpisahan kepada Ross sahabatnya, kepada tanah yang selama ini dipijaknya, kepada awan yang selama ini selalu melindunginya dari terik matahari dan kepada semua hal yang selama ini selalu ada untuknya.

            Menyeberangi Selat Alas dan berada di atas kapal Ferry berpenumpang lebih dari seribu orang, terombang – ambing di tengah luasnya air laut yang biru membuat May merasa begitu kecil. Tubuhnya, hatinya, pikirannya, semua berubah layaknya miniatur May. Begitu kecil.

Pukul sebelas siang.

Cuaca berkabut. Mendung tebal menutup habis seluruh permukaan matahari. Hujan rintik mulai turun. Kilat dan guntur silih berganti mengisi lapisan udara di langit hitam. Angin kencang mulai mengacak – ngacak rambut cepak May. Desau angin  terdengar nyaring di telinga.

” Inikah badai ? ” batin May.

Dalam cuaca yang baik sekalipun, Selat Alas dikenal dengan gelombang airnya yang tinggi. Dan hari itu, dalam terpaan badai angin yang kencang, gelombang air laut semakin meninggi. Menghempaskan robot apung tanpa ampun, menimbulkan suara berderit dari tiap bagian kapal di sela – sela helaan ombak.

May  berjalan menuju ke segerombolan penumpang yang lain. Hatinya bergetar hebat.

Gadis itu mengamati sekelilingnya. Dilihatnya beberapa penumpang menggerakkan mimik mereka dengan cemas.

” Mereka berdo’a dengan khusyuk ... ” batin  May.

Dalam kesempatan lain, dilihatnya pula beberapa  ibu tengah berusaha menenangkan tangis anak – anak mereka, ada pula suami – suami yang menenangkan pasangannya.

            May menghela nafas panjang. Mencoba tenang dalam situasi yang sama sekali jauh dari nyaman. Diliriknya jam di pergelangan tangannya. Pukul sebelas lebih dua puluh menit. Artinya masih butuh waktu sekitar empat puluh lima menit lagi untuk sampai ke pelabuhan Khayangan.

Sejauh ini, May tak lagi merasa dirinya sekuat May beberapa jam yang lalu.

” Tuhan ......, tolong aku.....” bisiknya perlahan.

Gadis itu mulai mengusap keringat dingin yang membasahi keningnya. Tubuhnya mulai oleng. Pandangannya berputar. May diam terduduk. Lemas luar biasa.

Gadis itu tak mampu menoleh saat bahunya ditepuk perlahan oleh seseorang.

Ananda pusing ?! ” sapaan lembut itu mengalun di telinga May. May mencoba mengangguk.

” Mari saya bantu  pijat ...” lanjutnya.

May menoleh perlahan. Pandangannya menangkap sosok wanita berumur sekitar enam puluh lima tahun disampingnya. May mencoba tersenyum. Pucat. Sangat kontras dengan kondisi perempuan tua disampingnya. Tampak bugar dan sangat tenang menghadapi keadaan saat itu.

” Terima kasih .....” ucapnya.               

Dalam detik ke sepuluh.

” Hueeeek ....!!! ” May memuntahkan sebagian  isi perutnya. 

Perempuan tua itu mengulurkan beberapa lembar tissue untuk May.

” Terima kasih ....” entah untuk  kali ke berapa May  mengucapkan dua kata ajaib  itu.

” Ayolah, kamu pasti bisa menghadapi keadaan ini ..., kamu harus sehat ...!” ujar perempuan tua itu penuh harap sambil menggosokkan minyak kayu putih ke leher dan tengkuk May.

May mengangguk.

” Perempuan tua yang hebat ..! ” desisnya perlahan.

” Ada apa Nak ?! ” perempuan tua itu mendekatkan wajahnya ke arah May seakan mendengar  May mengucapkan sesuatu.

” Terima kasih ...., Nenek sangat baik ...! ” ujar May cepat.

May  kembali menghela nafas.

” Aku tak boleh sakit ..! Aku harus kuat ...!, seperti .... perempuan ini ...! ” ” pekik hati May.

           

                                                            ****

 

            Sirene panjang terdengar nyaring di telinga. Pelabuhan  Khayangan tampak di depan mata. Menara dermaga semakin nyata, tampak tinggi dan menjulang.

May menghela nafas lega. Dihirupnya udara dalam – dalam hingga batas maksimum paru – parunya mampu menyimpan seluruh udara yang dihirupnya.

” Terima kasih Tuhan ..., Engkau Sangat Pengasih ....” ucap May perlahan.

Perempuan tua itu tersenyum ke arahnya.

” Siapa namamu Nak ?! ”

” Kenalkan Nek, saya May ....” jawabnya seraya mengulurkan tangannya yang mulai hangat.

” Saya Nande ...,  Ayu Nande ”.

May tersenyum mengangguk mendengar nama itu. Nama yang indah.

Sesaat keduanya kemudian berjalan beriringan sambil menenteng tas bawaan dan menuruni robot apung raksasa itu bersama penumpang lain. Mereka berpisah setelah banyak cerita yang mengalir diantara keduanya. Cerita May. Cerita Ayu Nande.

“ Selamat jalan Nak..., salam buat kedua orang tuamu ...

   Selamat Idul Fitri ya Nak ..., hati – hati di jalan ...” ucap wanita itu.

“ Ya ... ya..., terima kasih Nek untuk semua bantuannya, mohon maaf atas sikap dan  semua  salah saya ” balas May.

Wanita tua itu tersenyum. May tahu, senyum itu tulus. Senyum wanita berusia senja yang kini hidup seorang diri, tanpa anak dan suami, tinggal beberapa kerabat yang tersisa setelah musibah banjir bandang melanda daerahnya dua tahun lalu.

Dalam kesendiriannya menikmati jarak ratusan kilometer, May menghitung waktu yang tersisa  hingga nanti suara adzan magrib bergema, dan terganti oleh suara takbir yang bersahut – sahutan.

Idul Fitri ...... !

Hari yang ditunggu – tunggu oleh seluruh umat muslim di seluruh belahan dunia setelah tiga puluh hari penuh menjalankan ujian ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Hari yang identik dengan lontong dan opor ayam, yang konon keduanya merupakan simbol dari permintaan maaf dan pemberian maaf. Saat  yang tepat sebagai ajang mempererat tali silaturahmi diantara saudara dan handai taulan, yang bila dibiarkan tak terawat, bukan tak mungkin saudara dekat tak sedekat harapan, dan saudara jauh menjadi semakin jauh bahkan tak pernah saling mengenal. 

Hm ....

Moedik alias ” Poelang Kampoeng “ menjenguk keluarga adalah tradisi turun temurun yang sayang bila dilewatkan. May biasa menyebutnya dengan mudik jauh dan mudik dekat. Mudik jauh, bila jarak tempuh  jauh, butuh persiapan fisik dan biaya yang tak sedikit, sedang mudik dekat adalah sebaliknya.

Mudik May memang selalu jauh.

Tapi semua itu serasa tak berarti bila membayangkan semua sanak keluarga dan handai taulan telah berkumpul bersama. May menikmati semuanya. Berbagi cerita dan pengalaman seru. Berbagi “ Angpao “ dengan anak – anak saudara dan tetangga. Berbagi kaget dan terkejut oleh suara mercon dan kembang api yang meriah.

            Moedik .... !

Kampoeng halaman ...!!! Akoe  Poelang .... !!!

Selamat Idul Fitri ....

Mohon maaf lahir dan batin ....

Dari perjalanan  moedik poelang kampoengnya tahun ini, satu pelajaran bermakna dipetik May, berawal dari peristiwa di atas robot apung raksasa siang itu.

Bahwa selayaknya ada banyak cinta dan penghargaan buat kaum renta dan tua. Mereka boleh tua, tapi semangat mereka mampu menumbuhkan motivasi buat sang muda. Mereka boleh sudah tak berarti apapun bagi sebagian orang, tapi jangan pernah pandang mereka dengan sebelah mata.

Kalau mungkin kita mendengar, mereka akan selalu berharap,

“ Nak…, sayangi kami ….,  para usia lanjut.”

 

***

 

 

 

Kirim | Versi Cetak


"Kisah dan Cerita" Lainnya

   Persuratan       

   PROFIL KESEHATAN