Polling       

Jika anda sakit, kemana anda berobat ?

 

   Agenda Kegiatan       

« Dec 2018 »
M S S R K J S
25 26 27 28 29 30 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31 1 2 3 4 5

   Statistik Situs       

Visitors :2085105 Org
Hits : 4635212 hits
Month : 4801 Users
Today : 335 Users
Online : 10 Users

   Login       


Username
Password

Register
Forgot Password

   GALERY       

   SPGDT - DIY       

   INFO BED RS       

   ADDME-SEO       

Kisah Kinca

Senin, 15 Agustus 2011 12:20:27 - oleh : Sita Heny

Kinca.

Bagi May, itu nama yang indah. Bukan nama tempat, bukan nama jalan, apalagi nama orang.

Itu nama salah satu jenis buah asal Sape, Bima. Pohonnya termasuk jenis pohon berbatang keras. Bentuknya bulat sebesar kepalan orang dewasa.Warnanya hijau kekuningan dengan ruas kulit  menyerupai buah melon, namun memiliki tekstur kulit yang keras seperti tempurung kelapa, serta memiliki rasa asam bercampur sepat yang khas bila buah itu masih muda.

Bila telah matang, daging buahnya akan berwarna coklat tua dan  dapat langsung disantap, rasanya, hmmm..., manis sedikit asam. Konon, buah yang masih muda, sebelum disantap akan lebih terasa kreees … bila terlebih dahulu direndam dalam air  selama lebih kurang  enam atau tujuh hari. Wah.......... ?!

Ada hal menarik dari cerita kinca.

Selain buah ini sama sekali tidak populer di pulau Jawa, karena sampai saat ini May tak pernah bisa menemukannya seperti buah kebanyakan. Dari kabar terakhir, May mendengar, buah ini telah dibudidayakan di kota Malang, tapi itupun baru kabar, karena May tak pernah bisa menemukannya atau mendengar  kabarnya lagi. Atau mungkin buah itu telah terlahir kembali  dengan nama yang yang berbeda ?! Entah.

Selain itu, kinca menjadi salah satu buah  kegemaran dari kebanyakan anak – anak di sana.

Kinca memang memiliki citarasa yang aneh, tapi buah itu justru dicari – cari karena keunikannya. Hm ..!

            Seperti kebanyakan sifat anak. Mereka adalah peniru yang handal. Apa yang mereka dengar itulah yang mereka ucapkan, apa yang mereka lihat itulah yang mereka perbuat.

Nah...!

Merendam kinca  adalah hasil tiruan dari perilaku orang – orang dewasa di sekitar mereka. Tak tanggung – tanggung, kadang bila dihitung dengan teliti, jumlah kinca bisa mencapai angka lima belas, bahkan lebih.

Siang itu. May dan teman - temannya tengah mengaduk - aduk bak mandi yang ternyata menjadi tempat perendaman buah kinca setelah hampir satu minggu.

Direndam ?! Di bak mandi ?!

Iya, bak mandi. Itulah tempat pilihan paling diminati untuk merendam kinca.

Huih....! Geli rasanya tiap pagi dan sore mandi berteman kinca.

Jorok ?! Mungkin.

Tapi tak  pernah ada petugas kesehatan yang memberi penyuluhan tentang  jorok tidaknya buah kinca direndam di bak mandi. Dan jangan pernah menerka – nerka berapa hari sekali bak mandi itu dibersihkan. Karena, semakin keruh air, maka akan semakin aman pula kinca – kinca itu tersimpan.

             Setelah berhasil mengambil dua atau tiga buah kinca, mereka segera mencari sesuatu yang dianggap mampu memecah buah itu. Sesuatu itu harus keras tentu saja.

Yap ...! Sebuah batu besar .. !

Prok ...! prok ...! prok ...!

Suara buah beradu dengan batu, kraaaaaak.....! Buah  meretak  ....!

Serasa tak sabar untuk segera menikmati buah itu. Bisa disantap dengan garam saja, atau kalau mau pedas  tinggal ditambah dengan garam dan cabe merah yang telah ditumbuk dan dikeringkan menjadi semacam serbuk  kasar yang biasanya disimpan rapat di dalam sebuah botol.

Hm ..., rasa yang tak kan pernah terlupakan.

            Kini, May telah dewasa.

Kini May tahu, ternyata menguras dan membersihkan bak mandi maupun penampungan air lainnya sangat berguna untuk menghindari menetasnya telur nyamuk Aides Aigypti penyebab demam berdarah. Selain itu, ternyata menutup penampungan air sama efektifnya untuk tidak memberi tempat bertelur bagi para Aides . Sementara mengubur benda – benda yang kurang bermanfaat di lingkungan sekitar, ternyata akan semakin memperkecil peluang bagi Aides untuk hidup dengan nyaman di sekitar lingkungan. 

            Kisah kinca tinggal cerita.

Berkat upaya keras dari petugas kesehatan juga para kader, rendaman kinca paling favorit yang semula ada di bak mandi, kini telah beralih ke wadah lain yang  jauh dari kesan asal dan seadanya. *** ( Sh ).

Kirim | Versi Cetak


"Kisah dan Cerita" Lainnya

   Persuratan       

   PROFIL KESEHATAN