Polling       

Jika anda sakit, kemana anda berobat ?

 

   Agenda Kegiatan       

« Sep 2019 »
M S S R K J S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12

   Statistik Situs       

Visitors :2559484 Org
Hits : 5304055 hits
Month : 4059 Users
Today : 734 Users
Online : 19 Users

   Login       


Username
Password

Register
Forgot Password

   PROFIL KESEHATAN       

   ADDME-SEO       

SOSIALISASI BAHAYA ROKOK DI KALIBAWANG

Minggu, 30 Juni 2019 17:08:50 - oleh : admindinkes10

Sosialisasi Bahaya Rokok di Kalibawang

SOSIALISASI BAHAYA ROKOK DI KALIBAWANG

 

Oleh : Fivi Yanti, S.KM

Promotor Kesehatan di Puskesmas Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo

 

Kebiasaan merokok masih menjadi masalah yang sering ditemukan dalam masyarakat di wilayah kecamatan Kalibawang. Dari hasil kunjungan keluarga sehat yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di wilayah kecamatan Kalibawang pada tahun 2018, diperoleh data bahwa jumlah anggota keluarga yang merokok masuk dalam prioritas masalah yang ke-4 dalam permasalahan PIS PK (Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga) setelah indikator penderita hipertensi belum berobat secara teratur, keluarga berencana, serta penderita TB paru yang belum berobat sesuai standar. Sekitar 48,45% anggota keluarga yang ada di wilayah kecamatan Kalibawang masih merokok. Hal inilah yang menjadi latar belakang mengapa kegiatan sosialisasi bahaya rokok bagi kesehatan kepada perokok aktif di wilayah kecamatan Kalibawang perlu dilakukan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengatasi atau memberi pemahaman kepada para perokok aktif yang jumlahnya cukup banyak tersebut agar tahu, mau dan mampu menghentikan kebiasaan merokoknya sehingga mereka dan keluarganya menjadi lebih sehat dan produktif.

Kegiatan yang dilakukan ini juga sebagai salah satu bentuk intervensi lanjutan dalam penanggulangan masalah merokok di wilayah kecamatan Kalibawang dimana indikator merokok ini merupakan salah satu indikator dalam Keluarga Sehat. Sasaran dari kegiatan ini adalah para perokok aktif yang berada di 4 (empat) desa di wilayah kecamatan Kalibawang, yaitu desa Banjararum, Banjarasri, Banjarharjo dan Banjaroyo. Masing-masing desa diambil sebanyak 30 orang perokok sebagai peserta pada kegiatan ini. Cara pengambilan dilakukan secara acak, dan setiap dusun dari keempat desa tersebut masing-masing ada perokok aktif yang diundang sebagai peserta pada kegiatan ini, dan jumlahnya beragam tergantung banyak tidaknya perokok aktif di dusun tersebut. Tetapi jumlah perokok di masing-masing desa tersebut sama, yaitu sebanyak 30 orang.

Sosialisasi bahaya rokok bagi kesehatan kepada perokok aktif ini yang dilakukan pertama kali di desa Banjararum, petugas mendapatkan banyak masukan dari kader dan perangkat desa terkait isi surat undangan yang didistribusikan dan dititipkan kepada mereka, karena mereka menganggap bahwa isi undangan yang diberikan akan membuat sasaran (perokok aktif) akan merasa takut dan enggan untuk hadir pada kegiatan tersebut. Tetapi petugas terus berusaha meyakinkan mereka, bahwa isi surat undangan tersebut sudah sesuai dengan yang seharusnya. Dari awal, petugas menginginkan bahwa sasaran harus tahu tentang kegiatan apa yang akan mereka hadiri, serta konsekuensi yang akan mereka terima bila mereka hadir. Sehingga dari awal, kehadiran dari sasaran akan menunjukkan keberhasilan dari kegiatan yang akan dilakukan ini.

Kegiatan Sosialisasi bahaya rokok dilaksanakan di desa Banjararum, Banjarasri, Banjarharjo dan Banjaroya dengan jadwal pelaksanaan sebagai berikut :

 

No

Desa

Waktu Pelaksanaan

Tempat Pelaksanaan

1.

Banjararum

13 Maret 2019

RM Penyetan Kampoeng Laut, Dekso, Banjararum

2.

Banjarasri

14 Maret 2019

RM Penyetan Kampoeng Laut, Dekso, Banjararum

3.

Banjarharjo

11 Mei 2019

Balai Desa Banjarharjo

4.

Banjaroyo

13 Mei 2019

Balai Desa Banjaroyo

 

   Kegiatan dilakukan dengan menggunakan metode diskusi, serta memutarkan beberapa video singkat  tentang bahaya rokok yang telah terjadi di masyarakat terutama pada bayi, balita, ibu hamil dan kelompok rawan lainnya dan beberapa video eksperimen yang dilakukan untuk membuktikan bahwa rokok itu berbahaya bagi kesehatan. Semua video yang diputar tersebut diambil dari media sosial (you tube).

Di awal kegiatan, petugas menggali informasi kepada setiap sasaran tentang kapan sasaran mulai merokok serta yang menjadi penyebab mereka mulai merokok. Hasil penggalian informasi didapatkan kesimpulan bahwa dari sasaran yang hadir ada yang mulai merokok pada usia 5 tahun, saat kelas 3 SD, kelas 5 SD, kelas 1 SMP, serta ada juga yang mulai merokok pada usia 26 tahun.  Adapun penyebab dari mengapa mereka mulai merokok adalah karena melihat keluarga terdekat mereka merokok seperti ayah, paman, dan kakek. Sebagian juga menyampaikan bahwa mereka mulai merokok karena rasa ingin tahu, coba-coba, serta karena pergaulan. Dan ada juga yang mengatakan karena rasa frustasi akibat putus cinta atau cinta ditolak.

Setelah mengetahui kapan sasaran mulai merokok beserta alasannya selanjutnya petugas mengajak sasaran untuk melihat / menonton beberapa video / tayangan yang diambil dari you tube tentang bahaya rokok, seperti tayangan bayi yang meninggal setelah 2 (dua) hari acara aqiqahannya, sepasang calon pengantin yang gagal menikah karena calon pengantin pria lebih dahulu meninggal dunia sebelum hari pernikahannya akibat menghirup asap rokok di tempat kerja sementara dia bukan perokok aktif. Selanjutnya ada juga tayangan tentang seorang isteri yang terkena kanker tenggorokan akibat hidup bertahun-tahun dengan suami yang merokok. Serta ditayangkan juga beberapa eksperimen yang dilakukan untuk membuktikan bahwa aktifitas merokok itu membuat paru-paru bermasalah dengan percobaan menggunakan rokok yang dibakar dan tabung yang berisi kapas yang telah diberi pipa untuk menghubungkan antara rokok yang dibakar dengan tabung tersebut. Tayangan terakhir adalah eksperimen sosial tentang tanggapan dari perokok bila melihat ada seorang anak perempuan kecil yang meminjam korek api untuk membakar rokoknya. Saat sasaran menyaksikan tayangan-tayangan tersebut, petugas mengamati raut wajah dari para sasaran. Petugas melihat, hampir semua sasaran menunjukkan wajah yang sedih dan prihatin terhadap tayangan yang mereka lihat.

Setelah semua tayangan video tersebut ditampilkan, selanjutnya petugas mengajak sasaran (perokok aktif ) untuk berdiskusi tentang tanggapan mereka terhadap tayangan yang telah mereka lihat serta menanyakan apa yang akan sasaran (perokok) lakukan selanjutnya setelah selesai kegiatan ini. Sebagian besar dari perokok yang hadir mengungkapkan bahwa selama ini mereka sebenarnya tidak tahu kalau asap rokok yang mereka hasilkan tersebut dapat mengakibatkan masalah kesehatan kepada orang-orang di sekitarnya, dan mereka merasa menyesal karena telah melakukan itu. Di akhir kegiatan , sasaran yang hadir (perokok) membuat suatu kesepakatan , diantaranya :

1. Berusaha mengurangi jumlah rokok yang mereka konsumsi ;

2. Menjadi perokok yang santun (tidak merokok dekat yang bukan perokok) ;

3. Tidak merokok di dalam rumah dan dekat keluarga, bersedia merokok di luar rumah, selanjutnya sebelum bergabung dengan keluarga lainnya akan mandi terlebih dahulu serta mengganti baju yang digunakan saat merokok.

Mereka juga menegaskan, kalau untuk berhenti merokok secara langsung, mereka masih belum mampu, tetapi mereka akan berusaha untuk bisa secepatnya berhenti dari kebiasaan merokok. Hal ini patut kita berikan apresiasi yang baik karena ternyata para perokok juga berusaha untuk memberikan perilaku yang terbaik dari mereka. Dan sikap yang harus terus kita lakukan dan berikan adalah selalu mendukung dan terus memotivasi mereka agar usaha mereka untuk berhenti dari kebiasaan merokok segera terwujud.

Setelah kegiatan sosialisasi ini, petugas mendapatkan umpan balik dari isteri salah seorang perokok yang hadir pada kegiatan tersebut, lewat video yang direkam bidan desa Banjararum, Yetno Yuwanti, A.Md.Keb. Dalam video tersebut, isteri dari perokok itu menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada puskesmas Kalibawang yang telah melakukan kegiatan sosialisasi bahaya rokok yang mengundang suaminya, karena setelah pulang dari acara tersebut, suaminya menunjukkan perubahan pada perilaku merokoknya. Dikatakan kalau suaminya dulu sangat sensitif bila disinggung tentang masalah perilaku merokoknya, tetapi setelah mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut, sang suami tidak marah lagi kalau diajak bicara tentang rokoknya, juga jumlah konsumsi rokoknya berkurang, yang dulu sehari bias 1 bungkus rokok, tapi sekarang 1 bungkus tersebut dihabiskan untuk beberapa hari, selanjutnya sang suami juga bila merokok akan pergi jauh dari rumah mereka. Sang isteri dari perokok tersebut mengharapkan kegiatan seperti ini akan terus dilakukan kepada para perokok lainnya, sehingga akan memberikan hasil seperti yang dia alami.

Petugas juga merencanakan untuk melakukan monitoring terhadap perilaku / kebiasaan merokok dari perokok yang diundang pada kegiatan ini dengan memberdayakan kader yang ada di wilayah sebagai salah satu kegiatan evaluasi dari kegiatan sosialisasi.

       Pelajaran yang dapat diambil dari kegiatan ini adalah bahwa kita sebagai petugas kesehatan  jangan takut untuk memulai suatu program / kegiatan yang melibatkan para perokok dalam mengatasi permasalahan yang ditimbulkan  dari aktifitas merokok yang mereka lakukan. Yakinlah, bahwa kegiatan yang kita niatkan untuk kebaikan pasti akan mendatangkan kebaikan. Para perokok yang ada di sekitar kita, mungkin sebagian besar memang belum tahu bahaya dari aktifitas yang mereka lakukan (merokok), baik untuk diri mereka sendiri maupun kepada orang lain di sekitarnya. Dengan cara dan metode yang benar, mereka akan paham dan bersedia untuk bekerjasama dengan kita dalam mengatasi permasalahan akibat rokok.

 

Kirim | Versi Cetak


"Berita" Lainnya

   Sistem Informasi       

   Persuratan       

   GALERY       

   SPGDT - DIY       

   INFO BED RS