Polling       

Jika anda sakit, kemana anda berobat ?

 

   Agenda Kegiatan       

« Oct 2018 »
M S S R K J S
30 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10

   Statistik Situs       

Visitors :2057182 Org
Hits : 4560862 hits
Month : 4839 Users
Today : 232 Users
Online : 3 Users

   Login       


Username
Password

Register
Forgot Password

   GALERY       

   SPGDT - DIY       

   INFO BED RS       

   ADDME-SEO       

Raba

Rabu, 27 Juli 2011 14:56:43 - oleh : Sita Heny

Pengantar Admin

Dalam rangka Hari Anak Nasional (HAN) tahun 2011, kali ini untuk pembaca dipersembahkan cerita tentang keceriaan anak Indonesia, sumbangan dari  Sita Heny, selamat membaca.

Sekelompok anak kecil berseragam merah putih berlarian melintasi deretan akasia yang berjajar rapi dipinggir jalanan beraspal yang tak bisa dikatakan lebar. Dari wajah mereka, tersirat kegembiraan yang sangat.

Haaa ..!

Sekolah pulang lebih awal dari hari – hari biasa. Itu berarti satu kesempatan lagi untuk menambah panjang daftar waktu bermain yang ada.

Lihat mereka ! Kompak dan bersemangat memotong jalan beraspal dan akhirnya berjalan melintasi pematang sawah yang becek karena hujan semalam.

***

Teriakan anak – anak kecil itu sahut menyahut dengan gelak tawa mereka yang riang. Derasnya air sungai , sama sekali tak menyiutkan nyali mereka untuk berenang diantara besarnya riak air. Lima sekawan itu benar – benar pintar melewatkan waktu bermain.

Bagaimana tidak ? Setiap kali jadwal sekolah mengharuskan mereka pulang pagi dikarenakan berbagai kegiatan guru di sekolah, pasti membuat mereka semakin bahagia karena itu berarti kesempatan bermain terbuka lebar.

Mandi dan berendam di sungai sepuasnya, lalu pulang ke rumah masing – masing.

Tapi siang itu, rupanya kekompakan lima anak perempuan yang biasa mandi dan bermain di sungai itu tak bisa dan tak mampu menyembunyikan aliran darah yang mengucur keluar dari paha kanan Wati, sahabat mereka.

Saat atraksi terjun bebas, tiba –tiba Wati terperosok dan terjatuh saat mencoba terjun dari ketinggian tiga meter mengikuti kawan – kawannya yang lain. Sebuah tonggak kayu cukup besar, melukai paha kanannya.

“Aduh…!!” jeritnya kesakitan.

Wajah pias dan ketakutan tampak jelas terlihat dari semua pemilik wajah di siang itu. Bingung, takut, sedih, bercampur menjadi satu. Menjadi adonan yang sama sekali tidak enak .

“Ayo kita pulang, cepat…!” Wiwik mengajak yang lain untuk segera berkemas disambut anggukan kepala teman – temannya. Kelima anak perempuan itu berjalan tergesa melewati pematang sawah yang becek.

Sesampai di rumah, Ibu Wati tampak cemas melihat darah mengalir dari balik baju bawah Wati. Kelima sekawan itu hanya bisa pasrah. Bersiap menerima kemarahan yang bertubi – tubi dari orangtua Wati.

Oh …!

Beruntung Ibu Wati tak memarahi mereka. Kecuali satu pesan.

“Besok lagi, sepulang sekolah kalian langsung pulang kerumah masing – masing ya…, boleh bermain kalau sudah ijin Bapak atau Ibu dirumah… “.

Anak – anak perempuan itu nyengir dengan ciri khas mereka masing – masing. Lalu mengangguk tanda mengerti.

“Ya sudah, kalian boleh pulang sekarang. Wati akan segera dibawa kerumah sakit untuk diperiksa. Doakan lekas sembuh ya,…” Ibu Wati mencoba tersenyum .

Anak –anak mengangguk untuk yang kesekian kalinya. Lalu mereka pulang.

***

Sudah tiga hari Wati tak masuk sekolah. Vivi memandang kursi di sebelahnya dengan muram. Kosong.

Biasanya Wati selalu bercanda dan bercerita tentang kucing dan kelinci peliharaannya yang sekarang masing – masing beranak empat. Kemudian satu persatu Wati memandang sahabatnya yang lain, Wiwik, Lis, dan Endang.

“Besok kita jenguk Wati ya …..” usul Vivi.

“Ya, aku ikut …!” kata Wiwik.

“Aku juga …! ujar Lis dan Endang bersamaan.

“Kita kumpulkan uang jajan kita ya …, nanti kita belikan Vivi buah jeruk “ usul Lis.

“Ya, Wati suka jeruk. Nanti sepulang sekolah kita beli di toko Bu Ima” ujar Endang.

Mereka mengangguk setuju.

***

Teeet…….! Teeet …..! Teeet ……!

Bel panjang tanda masuk kelas berbunyi nyaring. Semua anak masuk ke kelas mereka masing – masing. Di ruang kelas dua, Ibu Hanna tersenyum ramah menjawab salam “ Selamat Pagi “ dan memandang satu persatu anak didiknya yang berjumlah delapan belas orang itu.

Tok ..! Tok ..! Tok ..!

Semua mata memandang ke arah pintu yang diketuk dari luar. Ibu Hanna bergegas menuju pintu dan masuk kembali bersama seorang gadis kecil dan seorang wanita separuh baya yang mendampinginya.

Ibu Hanna mempersilakan mereka duduk. Semua mata bergembira memandang gadis kecil bernama Wati yang tiba – tiba telah berada di tengah – tengah mereka kembali.

“Anak – anak, pagi ini teman kalian Wati akan berpamitan, karena mulai besok Wati akan berpindah sekolah karena ayah Wati harus pindah tugas “ kata Ibu Hanna perlahan.

Seketika kelas menjadi gaduh. Beberapa anak saling pandang. Endang melongo tak percaya. Wiwik dan Lis menggeleng – gelengkan kepalanya tak mengerti. Vivi diam. Gadis itu tampak sangat masygul. Gadis bernama Wati itu akhirnya berdiri di depan kelas didampingi oleh Ibu Wati. Ada air bening mengalir dipipi Wati yang.

Ibu Wati mengucapkan kata pamit. Dari tempat duduknya Vivi mengacungkan jari dan bertanya, “Ibu, apakah Wati pindah karena kami telah membuatnya terjatuh di sungai ? ” .

Ibu Hanna dan Ibu Wati berpandangan sejenak untuk kemudian tersenyum.

“Anakku, kalian anak – anak baik. Anak – anak hebat. Wati beruntung punya teman seperti kalian. Wati pindah karena ayah Wati ditugaskan di pulau Jawa, jadi kami sekeluarga juga harus mengikuti ayah Wati “ terang Ibu Wati perlahan.

Setelah dirasa cukup, satu persatu seisi kelas menyalami Wati. Sementara air bening tak hentinya mengalir dari muara di mata Wati. Semua itu tak lepas dari pandangan Vivi.

Vivi menghampiri dan memeluknya erat. “Jangan lupakan kami ya …” bisik Vivi . “ Tidak akan pernah, aku akan berkirim surat “ jawab Wati. Vivi mengangguk dan mempererat pelukannya.

***

Lambaian tangan Wati masih tampak jelas terlihat. Tiba – tiba Vivi, Endang, Lis dan Wiwik berlari menyusul langkah Wati.

“ Wati tunggu ….! “ teriak Wiwik dan Lis serempak. Wati dan Ibunya menghentikan langkah mereka. Menunggu beberapa saat. Setengah terengah keempatnya menghampiri Wati. “ Wati…, hari ini kami ingin menjengukmu ke rumah. Tapi kamu malah sudah datang ke sekolah. Kami belikan ini untukmu…” ucap Lis. “ Apa ini …? “ “ Buah jeruk kesukaanmu …”

“Terima kasih ya…, kalian sangat baik “.

Ibu Wati tersenyum menyusut airmata yang tiba – tiba luruh di pipi halusnya. Dipeluknya satu persatu anak – anak baik itu. “ Terima kasih sayang ….” bisiknya.

Kali ini lambaian tangan Wati benar – benar menjauh dan semakin kecil dari pandangan, meninggalkan kota kecil “ Raba ” di ujung timur kabupaten Bima , Nusa Tenggara Barat.

Selamat jalan sahabat.

Ingat selalu kata Ibu Hanna, “Di belahan bumi manapun, kita tetap anak – anak Indonesia yang hebat !

Jadi, tetaplah kalian bersahabat … !“ .

Kirim | Versi Cetak


"Kisah dan Cerita" Lainnya

   Persuratan       

   PROFIL KESEHATAN