Polling       

Jika anda sakit, kemana anda berobat ?

 

   Agenda Kegiatan       

« Jul 2018 »
M S S R K J S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11

   Statistik Situs       

Visitors :1972764 Org
Hits : 4421330 hits
Month : 4293 Users
Today : 410 Users
Online : 6 Users

   Login       


Username
Password

Register
Forgot Password

   GALERY       

   SPGDT - DIY       

   INFO BED RS       

   ADDME-SEO       

Lokomotif

Jum`at, 22 Juli 2011 12:28:09 - oleh : Nurul

Kepala Sulastri tertunduk-tunduk hampir menyentuh tempat tidur suaminya, saat kantuk yang selalu ditahannya tak terbendung lagi. Setiap kepalanya tertunduk 30 derajat, ia terbangun dan mengangkat kepalanya lagi sambil mengamati keadaan suaminya, Tarjo. Hampir tiap malam Sulastri tidur dengan cara seperti itu sejak menunggu suaminya opname di rumah sakit.

Tarjo dirawat di kelas 3 bangsal bugenvil khusus pasien penyakit dalam. Satu kamar ditempati dengan 5 penderita lain. Beberapa lembar tikar digelar diantara barang bawaan dari rumah dilantai sebagai tempat penunggu pasien lain berbaring melepas lelah. Tampak kumuh memang, tapi tak ada pilihan lain bagi kalangan pas-pasan seperti Tarjo yang berprofesi sebagai buruh serabutan.

Sebulan yang lalu Tarjo dilarikan ke rumah sakit karena batuk darah dan sesak napas. Ia sudah lama sakit karena batuk dan sakit kepala. Namun karena kondisi ekonomi yang pas-pasan tak memungkinkan untuk periksa ke dokter, jika penyakitnya kambuh Tarjo hanya minta dikeroki istrinya.

Tubuh Tarjo yang dulunya gemuk kini mengurus, kulitnya semakin menghitam. Sejak lama selera makannya hilang. Ia terbaring lemah. Hanya wajah dan lehernya yang terlihat besar karena bengkak. Dadanya kembang kempis dengan cepat, napasnya pendek-pendek.

“Huk Huk Huk…” Suara parau batuk Tarjo yang membuatnya Sulastri terbangun dan sedikit kaget.

“Tolong ambilkan minum, Las.” Sulastri segera meraih cangkir kesayangan Tarjo yang dibawa dari rumah, lalu dituanginya dengan air hangat dari termos.

“Bapak mau minum pakai sedotan atau sambil duduk?”

“ Bantu aku duduk.” Badan Sulastri yang kurus hitam berusaha membantu Tarjo agar bisa duduk.”

“Andaikan aku tahu akan begini sakitnya, aku tak akan merokok, Huk..Huk…Huk!” Sesal sering datang terlambat, dari dokter Tarjo tahu penyakitnya disebabkan kebiasaannya merokok. Mata Tarjo menerawang jauh sambil mengingat masa yang dilaluinya penuh asap.

Tarjo mulai merokok sejak remaja usia belasan tahun. Ia mengenal rokok dari ayahnya yang juga perokok. Bermula dari coba-coba yang berlanjut menjadi kebiasaan. Jumlah rokok yang dihabiskan dalam sehari berangsur-angsur meningkat. Dari satu batang sehari sampai 1 bungkus rokok ia habiskan dalam satu hari. Sejak saat itu ia dijuluki lokomotif oleh tetangganya.

Bagi orang miskin seperti Tarjo rokok adalah hiburan saat merasa tertekan dalam menghadapi hidup yang semakin sulit. Saat pusing menghadapi masalah rokoknya semakin menjadi-jadi.

Tarjo dan rokok tak terpisahkan. Rokok adalah cinta sejatinya. Suatu ketika tetangganya pernah Tanya pada Tarjo,” Kang kalau istrimu memberimu pilihan berhenti merokok atau cerai, pilih apa Kang?” Kalau aku pilih cerai aja,” ujar Tarjo sambil tertawa ngakak.

“Kang kata orang rokok tu bikin kita sakit dan cepet mati lho, apa kamu nggak takut?” goda Paiman.

“A alah semua orang hidup tu pasti mengalami sakit dan akhirnya nanti juga mati. Bapakmu yang dulu yang tidak ngrokok itu dulu juga sakit terus mati to?” kilah Tarjo

“Yang penting bagaimana orang itu bisa menikmati hidup, salah satunya yo rokok itu, enak je… mau po nih takkasih.”

Biaya yang dihabiskan untuk rokok sangatlah besar. Dalam sehari uang yang dikeluarkan untuk rokok sekitar 7 ribu sedangkan upah yang ia terima sebagai buruh serabutan sekitar 25 ribu. Itupun kalau pas ada kerjaan kalau tidak ia tak dapat uang sementara merokok tak pernah berhenti.

Tarjo tak peduli kebutuhan makan anak istrinya yang tak tercukupi. Si bungsu yang masih balita sudah lima bulan tak naik berat badanya, tubuhnya kurus. Tiap hari hanya bisa makan sepiring bubur tanpa lauk secuilpun, untuk menambah rasa hanya ditaburi garam atau kecap. Anaknya yang nomor yang kelas 3 SD juga kurus. Si sulungnya, Yanti yang baru kelas 2 SMP terpaksa putus sekolah.

Sulastri seorang istri yang selalu nerimo. Sulastri tak pernah mengeluh meskipun jatah belanjanya dipotong untuk beli rokok. Ia juga tak pernah protes ketika setiap hari harus hidup dalam kepulan asap yang mengelilinginya. Sulastri terpaksa ikut mencari tambahan penghasilan dengan mencuci pakaian tetangganya.

Kini 30 tahun telah berlalu sejak pertama kali kenal rokok, Tarjo sedang menuai ulahnya di usianya yang ke 45 tahun. Ia mengidap kanker paru yang sudah stadium lanjut. Menurut dokter yang menangani, operasi sudah tak ada gunanya karena kanker itu telah menyebar ke organ lain.

Sulastri hanya bisa pasrah, ia melamun dengan tatapan mata kosong. Sesekali matanya tampak berkaca-kaca. Begitu berat beban ia tanggung selama ini, apalagi nanti jika suaminya tak tertolong lagi. Ia harus mencari nafkah sendirian untuk menghidupi tiga anaknya. Upah harian sebagai buruh cuci pakaian rasanya takkan cukup.

Sulastri pinjam uang pada tetangga dan saudaranya untuk biaya hidupnya selama menunggu di rumah sakit dan hidup anak- anaknya di rumah. Untungnya si sulung, Yanti sudah bisa mengasuh dua adiknya yang dua-duanya masih SD.

Pada Yanti Sulastri pernah berpesan, “Nduk, besok kamu jangan sampai dapat suami perokok seperti bapakmu, cukup simbok saja yang menderita”.

Pagi itu Yu Minah tetangga Sulastri yang sering meminjaminya uang, menengok di rumah sakit.

“Las…. mbok ya dulu kamu peringatkan suamimu agar jangan ngrokok!” Minah menasehati.

“Saya sudah coba tapi nggak ada gunanya Yu…” jawab Sulastri lesu.

Dua bulan berlalu, kondisi Tarjo semakin buruk. Sore itu Yanti anak sulung Tarjo datang menjenguk bapaknya. Mata Sulastri dan Yanti selalu basah hari itu, mereka sepertinya sudah memperkirakan apa yang akan terjadi.

Las…las…tri…, sayup terdengar suara Tarjo memanggil. Sulastri dan Yanti mendekat.

“Ada apa Pak?” tanya Sulastri

“Waktuku sudah dekat, Las. Tolong kau jaga anak-anak. Ma..afkan suamimu yang tak berguna ini” Hanya itu perkataan terakhir yang bisa diucapkan Tarjo saat menghadapi ajalnya. Kepergian Si Lokomotif yang menyisakan derita anak-anak dan istrinya.

Kirim | Versi Cetak


"Kisah dan Cerita" Lainnya

   Persuratan       

   PROFIL KESEHATAN