Polling       

Jika anda sakit, kemana anda berobat ?

 

   Agenda Kegiatan       

« Sep 2018 »
M S S R K J S
26 27 28 29 30 31 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 1 2 3 4 5 6

   Statistik Situs       

Visitors :2028615 Org
Hits : 4510135 hits
Month : 4633 Users
Today : 580 Users
Online : 16 Users

   Login       


Username
Password

Register
Forgot Password

   GALERY       

   SPGDT - DIY       

   INFO BED RS       

   ADDME-SEO       

DIFTERI

Jum`at, 12 Januari 2018 12:39:53 - oleh : Etik

DIFTERI

Penyakit difteri adalah penyakit menular mematikan yang menyerang saluran pernafasan bagian atas (tonsil, faring dan hidung), kadang ada pseudomembran, disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae, penyakit ini menyerang semua golongan umur tetapi yang paling berisiko adalah golongan umur : < 5 tahun dan orang tua > 60 tahun.
Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat mempengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.
Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.
Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi terhadap difteri ini termasuk program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia pada tahun 2016, sebesar 84%. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk di dalamnya Kabupaten Kulon Progo merupakan wilayah yang memungkinkan untuk terjangkitnya kasus Difteri. Untuk mengantisipasi hal tersebut, di awal tahun 2018 ini Kepala Dinas Kesehatan DIY telah mengeluarkan surat kewaspadaan dini nomor : 443/00070/II.2 tanggal 3 Januari 2018 tentang : Antisipasi terjadinya peningkatan kasus penyakit-penyakit berpotensi wabah yangt ditujukan kepada semua Kepala Dinas Kesehatan di DIY. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan kasus Suspek Difteri di wilayah DIY.
Di Kabupaten Kulon Progo khususnya untuk kasus Difteri, sampai saat ini sudah ditemukan Suspek Difteri sejumlah 4 kasus (3 kasus di tahun 2017 & 1 kasus di tahun 2018), dengan rincian : 3 kasus tahun 2017 berasal dari : Kecamatan Galur = 1 kasus (P/17 th) , Kecamatan Panjatan = 1 kasus (P/23 th & dari Kecamatan Nanggulan = 1 kasus (L/8,8 th) sedangkan 1 kasus di tahun 2018 berasal dari : Kecamatan Temon (P/23 th).
Penyebaran bakteri Corynebacterium diphtheriae dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti :
- Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
- Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
- Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.
Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi :
- Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
- Demam dan menggigil.
- Sakit tenggorokan dan suara serak.
- Sulit bernapas atau napas yang cepat.
- Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
- Lemas dan lelah.
- Pilek, awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.
Untuk menegakkan diagnosis difteri, awalnya dokter akan menanyakan beberapa hal seputar gejala yang dialami pasien. Dokter juga dapat mengambil sampel dari lendir di tenggorokan, hidung, atau ulkus di kulit untuk diperiksa di laboratorium.
Antibiotik akan diberikan untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Dosis penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lama pasien menderita difteri.
Selain penderita, orang-orang yang berada di dekatnya juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena penyakit ini sangat mudah menular. Misalnya, keluarga yang tinggal serumah atau petugas medis yang menangani pasien difteri.
Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.
Vaksin DTP termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin Td dapat diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal. Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidup.

-Eka Boedi Wibawa, SKM-

Kirim | Versi Cetak


"Artikel" Lainnya

   Persuratan       

   PROFIL KESEHATAN