Polling       

Jika anda sakit, kemana anda berobat ?

 

   Agenda Kegiatan       

« Apr 2018 »
M S S R K J S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12

   Statistik Situs       

Visitors :1915443 Org
Hits : 4296514 hits
Month : 4516 Users
Today : 206 Users
Online : 4 Users

   Login       


Username
Password

Register
Forgot Password

   GALERY       

   SPGDT - DIY       

   INFO BED RS       

   ADDME-SEO       

Bidadari dan Pangeran

Rabu, 13 Juli 2011 13:18:16 - oleh : Nurul

Matahari mulai  tergelincir dari atap langit. Cahaya putih menyilaukan  berganti  kemerahan di ufuk barat. Panasnya yang menyengat berganti angin bertiup pelan membelai dedaunan di sepanjang jalan yang kulalui. Deru mesin kendaraan timbul tenggelam menyisakan kepulan asap kelabu.

Jalan Raya Jogja-Wates tak pernah sepi. Tiap hari jalan ini kulalui dua kali sehari pagi dan sore. Kelopak mataku terasa berat. Tak kuasa menahan beban yang memaksa untuk segera mengatup. Tubuhku terasa licin berminyak keringat.

Sampai tikungan dekat bengkel kukurangi kecepatannya. Tampak pemandangan khas perumahan terpampang di depan mata. Ratusan  rumah mungil berdiri di sana, berbaris  rapi dengan bentuk dan ukuran yang nyaris sama. ‘Rumah Murah Disain Mewah’ kata itu tertulis pada papan Reklame di tepi tikungan jalan.

Hampir setiap sore suasana di perumahan ini tampak meriah. Anak anak sibuk bermain di pinggir jalan karena memang nyaris tak ada halaman rumah yang bisa mereka pakai untuk bermain. Di beberapa sudut blok tampak ibu-ibu berkerumun sambil menyuapi anak-anak mereka. Pandangan mereka beralih padaku ketika aku melintas di depan mereka. Sambil menundukkan kepala aku tersenyum pada mereka, Yaa sekedar basa-basi lah biar tidak dianggap angkuh. Padahal hati ini berkata sebaliknya ah! dasar ibu-ibu rumah tangga….. nggak ada kerjaan, sukanya kumpul-kumpul. Aku memang tipe orang yang tidak suka kumpul-kumpul seperti mereka, karena ujung-ujungnya selalu ngomongin orang selain aku tak punya waktu banyak seperti mereka.

Seharian aku bekerja di kantor sampai jam setengah empat sore. Mulai tahun ini Pemerintah Daerah Purworejo mulai menerapkan aturan 5 hari kerja. Semua pegawai negri sipil di lingkungan pemda bekerja mulai pukul 7.30.WIB sampai 15.30 WIB, termasuk juga kantorku yaitu Dinas Kesehatan. Pada bulan pertengahan tahun ini aku dan teman temanku sedang sibuk-sibuknya menyelenggarakan kegiatan yang sudah direncanakan akhir tahun sebelumnya. Aku kebetulan ditempatkan di seksi gizi. Tahun ini seksi kami masih berfokus menangani masalah gizi buruk yang tak ada habis-habisnya, dan masalah gizi lain seperti  anemia, kurang yodium, dan cakupan ASI Eksklusif yang masih sangat rendah. Ya… semua memang saling kait mengkait. Ibu yang anemia dan tidak memberikan ASI-nya bisa mengakibatkan bayi dan balitanya gizi buruk, ditambah dengan kemiskinan yang tak memungkinkan memberikan susu formula yang memadai. Kami harus bekerja keras untuk semua itu. Bagiku karir bukan hanya sarana mencari uang tetapi juga untuk status dan aktualisasi diri. Buat apa sekolah tinggi-tinggi sampai strata dua jika tidak dimanfaatkan. Lagi pula aku tidak suka menggantungkan nasibku pada penghasilan suami.

Oaaaa..oaaa…suara tangis anakku terdengar semakin jelas, memecah lamunanku. Tak terasa aku sampai di depan rumah. Rumah mungil type 36 dengan luas tanah 90 m2 di Blok A no 12. Rumah ini kubeli dengan kridit KPR BTN dan masih menunggu 10 tahun lagi lunas. Untuk merenovasi rumah ini aku telah ‘menyekolahkan’ SK di Bank.

Kuparkir Honda Beatku di dekat jemuran yang rimbun dengan puluhan popok dan pakaian yang berkibar-kibar ditiup angin sore. Begitu aku masuk rumah, tampak gadis kecil berambut ikal dan bermata bulat besar berlari menghambur ke pelukanku.

“Mama…..mama…pulang…teriak Mia, anak sulungku yang kini berusia 2 tahun.

“Badan Mama masih kotor, Sayang.. Mia sama Bik Imah dulu ya?!” kataku sambil kugenggam tangan mungil itu dan kutuntun menuju ruang tengah yang nyaris menyatu dengan dapur.

Di ruang tengah tampak Bik imah berdiri sambil mengayun ayunkan badannya kanan kiri seperti berjoged sambil menggendong si bungsu Iqbal yang masih menangis

” Bu ini rewel mau bobo”. katanya.

“Ya ga apa-apa, tapi ga sakit kan? mau minum susu kan?” pertanyaan rutin yang tiap hari kuajukan.

“Nggak sakit Bu, susunya habis 4 botol.”kata Bik Imah.

Iqbal kini sudah 4 bulan usianya, jadi sudah 2 bulan aku tinggal kerja karena aku cuma diberi waktu 2 bulan cuti setelah bersalin. Selama aku bekerja aku hanya bisa meninggalkan ASI yang hanya cukup sampai siang hari, sehingga terpaksa Iqbal diberi tambahan susu formula.

Bik Imah  sudah 2,5 tahun jadi pengasuh anak-anakku, usianya sudah cukup tua sekitar 55 tahun, pernah sekolah dasar tapi tidak sampai lulus. Ia kunilai cukup rajin bekerja dan sabar terhadap anak-anakku. Tanpa perempuan ini aku sangat kewalahan mengasuh anak anak. Mengasuh Mia sendiri saja aku capek sekali apalagi ditambah Iqbal duh… minta ampun.

“Bik, aku mau mandi dulu, tolong jaga anak-anak.” kataku sambil meraih handuk menuju kamar mandi.

”Nggih, Bu”.

Kucuran air begitu menyegarkan, menggelontorkan penat dan peluh. Sayup kudengar rengekan Mia dan tangisan Iqbal, tertelan oleh gemericik air shower. Ah biasa anak kecil rewel atau menangis, begitu pikirku. Suara tangisan Iqbal terhenti. Pangeran kecilku ini sudah tertidur lelap rupanya.

“ Bik kalau sudah pulas taruh aja di kasur.”

Melihat aku selesai mandi, Mia langsung mendekati aku. Kaki-kaki mungilnya berjalan masih agak tertatih-tatih. Bidadari kecilku ini bisa berjalan kaki saat usianya sudah 18 bulan, terlambat memang.

“Mama mama temani Mia main dong…?” ajaknya sambil menarik-narik tanganku.

“Mama capek Sayang. Mia ditemani Bik Imah saja ya?” kataku.

“Nggak mauuuuu…!!!” kata yang disusul dengan suara tangisan yang berangsur mengeras.

Mendengar tangisannya kepalaku jadi pening. Kucoba menenangkannya dengan memberikan wafer coklat kesukaanya tapi tangisnya tak juga berhenti. Kugendong  Mia dan kuserahkan pada Bik Imah. Saat ini aku butuh istirahat. Kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Kelopak mataku segera mengatup. Aku tertidur diringi tangisan anakku.

Titit titit…Bunyi alarm hpku membangunkan aku. Pas jam setengah enam sore. Bik Imah telah menyiapkan makan malam. Mia rupanya telah tidur di kamar Bik Imah sementara Iqbal juga belum bangun di boxnya. Pelan pelan kuangkat tubuh Iqbal dan duduk di kursi depan televisi sambil menyusuinya. Uniknya bayi bisa menyusu sambil tidur.

Sayup sayup terdengar deru suara mobil semakin jelas, suara khas itu sungguh aku kenal. Rupanya suamiku telah pulang. Bik Imah bergegas membukakan pintu.

“Assalamualaikum”! tidak seperti aku, suamiku tak pernah lupa mengucapkan salam.

“Waalaikum salam”!, jawabku hampir bersamaan dengan Bik Imah

“Gimana anak-anak rewel ga?” pertanyaan rutin untuk Bik Imah

“Seperti biasa Pak, namanya juga anak-anak kalo mau bobok atau bosan pasti rewel.” kata Bik Imak.

“Tok tok tok! Assalamualaikum”, terdengar seseorang mengetok pintu.”

“Waalaikum salam”, jawab kami serempak.

Bik Imah segera membuka pintu, tapi tidak mempersilahkan masuk. Rupanya si tamu hanya menyerahkan undangan.

“Bu ada undangan syukuran menempati rumah baru dari tetangga baru di Blok C yang rumahnya dicat hijau itu”, kata Bik Imah sambil menyerahkan undangan padaku.

***

Beberapa orang tetangga telah berdatangan di rumah yang cat hijaunya masih basah. Tuan rumah menyambut tamu di depan pagar. Pak Saiful nama tetangga baru itu. Orangnya tinggi besar, berjenggot lebat kemungkinan usianya tak jauh dari suamiku. Ia hanya mau bersalaman dengan tamu laki-laki saja. Tamu laki-laki dipersilakan duduk di luar rumah, sementara tamu perempuan dipersilahkan duduk di dalam rumah. Ketika aku masuk rumah seorang perempuan yang kelihatanya nyonya rumah sedang sibuk menyalami tamu-tamu. Aku agak kaget melihat wajahnya dari dekat. Bukankah Dia temanku kuliah S2 dulu? Ya.. aku ingat namanya Dewi.

“Dewi Ya?” tanyaku. Ia memandangku dengan seksama lalu tersenyum gembira.

“Ida! kamu Ida kan? Subhanallah! Kita bertemu disini.”

Meskipun wajahnya sudah menua aku masih ingat denganya, apalagi pada lesung pipitnya dan senyumnya yang khas.  Ia masih kelihatan cantik seperti dulu. Kami dulu sangat akrab, namun setelah lulus kuliah kami kehilangan kontak.

“ Bagaimana kabarnya? kita jadi tetangga sekarang? sudah punya momongan berapa?” aku langsung diberondong dengan pertanyaan.

“ Kami baik-baik saja. anakku sudah dua. Aku tinggal di Blok C, sekarang. Kamu sediri bagaimana?”

“Alhamdulillah anakku sudah empat,” katanya dengan meta berbinar

Mendengar angka empat mataku terbelalak. Aku dapat cerita dari temanku yang lain kalau Dewi menikah sekitar lima tahun yang lalu.

“Empat?!! Bukankah kamu belum lama nikahnya, berarti masih kecil kecil dong, apa nggak repot? Punya pembantu berapa?”

“Alhamdulillah nggak repot, aku ibu rumah tangga jadi tidak perlu pembantu .”

Aku semakin kaget. Tak habis pikir kenapa Dewi yang sangat pintar dan berpendidikan tinggi akhirnya memilih jadi ibu rumah tangga. Padahal dulu saat kuliah kami berakhir ia ditawari oleh Pak Dekan untuk jadi staf pengajar. Aku iri padanya saat itu, namun aku tak tahu kelanjutannya apakah ia terima atau tidak.

“Bukankah dulu kamu ditawari mengajar di UGM?” tanyaku

“ Oh yang dulu itu…aku ga terima soalnya saat itu aku dah nikah, aku telah bertekat untuk menjadi ibu rumah tangga”

“Sayang sekali ya, padahal kamu sudah berpendidikan tinggi.” Mendengar perkataanku ia tersenyum.

“ Ida, tak ada yang sia-sia, justru aku bisa gunakan untuk mendidik, mengasuh dan memberikan nutrisi untuk anak-anak.”

Obrolan kami terputus oleh suara pembawa acara yang membuka acara. Sepanjang pertemuan itu ada yang berkecamuk dalam pikiranku. Kenapa orang yang secerdas Dewi hanya memilih menjadi ibu rumah tangga saja. Jika dari awal ia bercita-cita untuk itu, untuk apa ia bersekolah sampai S2, atau mungkin itu persyaratan dari suaminya yang tak menginginkannya bekerja. Entahlah.

Hampir setiap kali berangkat kerja aku melihat pemandangan di rumah Dewi. Ia tampak menikmati profesinya, bercanda dengan anak-anaknya, menyuapi si bungsu sambil mengawasi kakak-kakanya yang asik bersepeda, melambaikan tangan di depan pintu pada si sulung yang siap pergi ke sekolah.

***

Hari berganti kulalui dengan rutinitas yang hampir sama. Senin sampai Jum’at bangun pagi jam setengah lima. Selesai subuh menyusui Iqbal, Sementara hampir semua pekerjaan rumah dibereskan oleh Bik Imah dan Suamiku yang lebih suka mengepel lantai dan mencuci perabot rumah. Tak banyak waktu yang kuhabiskan bersama Mia dan Iqbal. Sementara  hari Sabtu dan Minggu sering kumanfaatkan untuk kegiatan sosial, arisan dan menghadiri undangan teman yang punya gawe. Untung ada Bik Imah, tak aneh bila akhirnya anak-anakku lebih dekat dengannya.Suamiku yang pendiam tidak pernah keberatan dengan semua kegiatannku.Yaa diamnya kuanggap setuju.

Pagi ini aku harus segera tiba di kantor lebih pagi dari bisanya. Hari ini sangat penting. Kebetulan aku dipercaya menjadi ketua panitia Hari Gizi. Serangkaian acara telah disusun dan akan dilaksanakan selama 2 minggu ke depan.

“ Bu..badan Mia kok agak panas ya?!” kata Bik Imah sambil mendekatku  berkemas yang sedang sibuk berkemas. Pandangan Mia tampak sayu menatapku. Kepalanya disandarkan di bahu Bik Imah yang menggendongnya.

“Bik di lemari obat masih ada persediaan parasetamol nanti diminumkan .”

“Ya Bu.”

Sebelum pergi kucium Iqbal yang masih tertidur pulas di Boxnya. Giliran Mia kucium keningnya yang terasa panas.

“Mama jangan pergi.” Butiran butiran bening menetes di kedua pipinya.

“Mama ijin nggak usah berangkat saja.”kata suamiku yang kelihatan trenyuh melihat tangis Mia.

“Kalo hari ini aku harus brangkat Yah.”

Seperti biasa suamiku hanya diam yang kuartikan sebagai tanda setuju.

Maafin Mama Sayang…… Mama harus kerja, nanti mama usahakan pulang lebih awal saja ya?” sekali lagi kucium pipi Mia yang basah. Mendengar perkataanku tangisnya meledak.

***

Tiba di kantor aku sibuk mempersiapkan seminar yang bertema Nurtisi dan Tumbuh Kembang Anak. Seminar yang sangat menarik apalagi diisi oleh narasumber yang sudah punya nama. Tak heran jika ruangan penuh dengan peserta yang mayoritas wanita. Narasumber menyampaikan materi secara menarik diselingi lelucon yang memancing tawa peserta. Aku sangat puas dan menikmati seminar ini. Hp sengaja kumatikan sampai akhir acara.

Saat kuaktifkan Hp aku terkejut dengan banyaknya  pesan yang masuk. Tiga pesan dari Bik Imah dan satu pesan dari suamiku. SMS dikirim jam 9 sampai jam 10 pagi.

Bu Mia diare banyak sekali bu

Bu pulang sekarang Bu Mia lemes sekali saya bingung bu harus gimana

Bu saya ngebel Bapak di kantor. Beliau sebentar lagi pulang

Penting sekalikah sampai Hp dimatikan? Mia dehidrasi berat aku bawa ke RS PKU kutunggu disana. Iqbal kutitipkan eyang

Pukul 16.00.WIB. Aku segera meluncur menuju rumah sakit. Hujan gerimis bercampur air mata membasahi wajah. Aku harus melihat anakku secepat mungkin. Aku sangat menyesal kenapa aku harus mematikan Hp. Tiba tiba ucapan Dewi terngiang lagi . “Aku bisa gunakan ilmuku untuk mendidik, mengasuh dan memberikan nutrisi untuk anak-anak.” Dewi benar, ia memprioritaskan ilmunya untuk anak-anaknya. Tidak seperti aku yang sok idealis ingin memperbaiki gizi anak-anak orang lain sementara anak-anaknya sendiri tidak diurusi. Aku berpendidikan tinggi tapi hanya bisa menghadirkan pendidikan dan pengasuhan kualitas lulusan SD untuk anak-anak.  Ibu macam apa aku ini. Aku merasa tidak berguna. Ya Allah ampuni aku yang tidak bisa menjaga amanahmu dengan baik…… Air mata semakin deras menetes.

Aku sampai di RS. Setelah memarkir motor aku berjalan cepat setengah berlari menuju bangsal anak. Aku membuka kamar 01 dengan hati berdebar. Begitu pintu kubuka tampak Mia terbaring lemah ditunggui ayahnya disampingnya. Dari muka suamiku tampak sisa kemarahan di sana, namun ia tetap diam. Aku tak berani menatapnya lama, kualihkan pandanganku pada Mia yang memandangku sayu.

“Mama…tungguin Mia Ma…

Kerongkonganku tercekat. Air mataku tak terbendung lagi.

“Maafkan Mama sayang….. Mama salah….Mama akan menungguin Mia….Mulai saat ini Mama akan lebih memperhatikanmu Sayangku. Kuciumi dan kupeluk bidadari kecilku ini. Kulirik wajah suamiku, wajahnya tlah berubah.

Terdengar ketukan pintu kamar disusul masuknya beberapa orang. Nenek Mia datang bersama Iqbal yang pulas dalam gendongannya.

“Diantar siapa Bu?”

“Sama sopir.”

Iqbal kuambil alih alih dari gendongan Nenek. Aku rindu sekali. Maafkan Mama Sayang….Mulai saat ini Mama tak akan mengabaikan kalian….. bidardari dan pangeran kecilku.

Kirim | Versi Cetak


"Kisah dan Cerita" Lainnya

   Persuratan       

   PROFIL KESEHATAN