Polling       

Jika anda sakit, kemana anda berobat ?

 

   Agenda Kegiatan       

« Jun 2018 »
M S S R K J S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
1 2 3 4 5 6 7

   Statistik Situs       

Visitors :1944147 Org
Hits : 4364794 hits
Month : 3726 Users
Today : 260 Users
Online : 6 Users

   Login       


Username
Password

Register
Forgot Password

   GALERY       

   SPGDT - DIY       

   INFO BED RS       

   ADDME-SEO       

Upaya Penanggulangan Balita Stanting Terintegrasi di Kabupaten Kulon Progo

Jum`at, 16 Maret 2018 14:13:43 - oleh : Etik

Upaya Penanggulangan Balita Stanting Terintegrasi di Kabupaten Kulon Progo Masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stanting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Penyebab masalah ini sangat kompleks tidak hanya masalah kesehatan ibu dan anak, namun juga terkait lingkungan, ekonomi, sosial, budaya bahkan politik,

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo bertekad mengatasi masalah ini secara terintegrasi dengan kerjasama lintas OPD (Organisasi Perangkat Daerah) secara sinergis. Tahun ini ada 10 Desa yang menjadi lokus penanganan stanting yaitu Nomporejo, Tuksono, Karangsari, Sendangsari, Donomulyo, Kebonharjo, Ngargosari, Gerbosari, Sidoharjo, Pagerharjo. Koordinasi penanggulangan dilakukan Kamis, 22 Februari 2018 bertempat di Ruang Komite Medik RSUD Wates.

Bupati Kulon Progo dr Hasto Wardoyo, SPOG (K) mengatakan bahwa untuk mempermudah intervensi pada tiap-tiap desa lokus harus ada data stanting terbaru dan dicari faktor penyebabnya sehingga dapat mengatasi masalah dengan tepat sasaran, misalnya untuk daerah tertentu banyak kasus Tuberkulosis, atau mungkin karena pola asuh dan praktek pemberian makan yang salah. Data lebih baik ditampilkan dengan peta yang selalu update.

Ada tiga narasumber dalam pertemuan tersebut yaitu Dr Toto Sudargo, SKM, M Kes, dr Bambang Haryatno, M Kes dan drg Hunik Rimawati, M Kes. Pada kesempatan tersebut Dr Toto Sudargo, M Kes mengungkapkan bahwa kenapa masalah stanting ini menjadi masalah yang diangkat menjadi masalah nasional karena pada data stanting yang tinggi dibahas dalam di pertemuan WHO yang dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan diangkat lagi pada pertemuan G20 yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Dr Toto menambahkan bahwa untuk menanggulangi masalah ini diperlukan lima pilar yang pertama adalh komitmen dari petinggi negara/pemerintah daerah disini jelas Bapak Bupati Kulon Progo punya komitmen yang tinggi, kedua Kampanye Nasional Berfokus pada pemahaman, perubahan perilaku, komitmen politik dan akuntabilitas, ketiga Konvergensi, Koordinasi, dan Konsolidasi Program Nasional, Daerah, dan Masyarakat, keempat Mendorong Kebijakan “Nutritional Food Security (Ketahanan Pangan), kelima pemantauan dan evaluasi. Intervensi Gizi Spesifik yang dilakukan sektor kesehatan berupa upaya pencegahan pada 1000 Hari Pertama kehidupan mempunyai kontribusi sebanyak 30 % sedangkan Intervensi Gizi Sensitif berupa pembangunan di luar sektor kesehatan .

Pertemuan tersebut dihadiri oleh 10 kepala desa, 5 camat, 7 kepala puskesmas, Bappeda, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Dalduk dan KB, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Perwakilan Kementrian Desa Tingkat Kabupaten, Dinas Kesehatan Kabupaten dan Dinas Kesehatan DIY. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk bersama-sama membuat kegiatan sesuai fungsi dan ketugasan masing-masing Organisasi Perangkat Daerah, yang dialokasikan terutama pada 10 desa stanting.

Kirim | Versi Cetak


"Artikel" Lainnya

   Persuratan       

   PROFIL KESEHATAN