Polling       

Jika anda sakit, kemana anda berobat ?

 

   Agenda Kegiatan       

« Dec 2017 »
M S S R K J S
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6

   Statistik Situs       

Visitors :1839834 Org
Hits : 4106129 hits
Month : 5025 Users
Today : 254 Users
Online : 3 Users

   Login       


Username
Password

Register
Forgot Password

   GALERY       

   SPGDT - DIY       

   INFO BED RS       

   ADDME-SEO       

APM Puskesmas Pengasih I Sebuah Inovasi Yang Menarik Perhatian Peserta Kaji Banding

Senin, 21 November 2016 05:50:59 - oleh : admindinkes10

 

Penjelasan penggunaan APM oleh petugas pendaftaran.

 

       Sebagai salah satu bentuk pembelajaran Sistem Informasi Kesehatan (SIK) khususnya bridging system antara SIMPUS (Sistem Informasi Manajemen Puskesmas:red) dengan P-care BPJS, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul mengadakan kaji banding ke Puskesmas Pengasih I Kabupaten Kulon Progo. Kunjungan kaji banding ini dipimpin oleh Kepala Sub Bagian Perencanaan Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul Diana Setyawati, SKM, MSE diterima langsung oleh Kepala Puskesmas Pengasih I drg. Iting Mamiri di Aula Puskesmas Pengasih I kemarin Sabtu (19/11).
       Kaji banding dari Dinkes Kabupaten Bantul ini diikuti oleh kepala puskesmas maupun koordinator SIK Puskesmas sebanyak 50 orang. Dalam sambutannya Iting selain menyampaikan ucapan terima kasih atas kepercayaan puskesmasnya digunakan untuk kaji banding juga menyampaikan riwayat penggunaan aplikasi SIMPUS yang pernah digunakan di Puskesmas Pengasih I hingga sampai dengan menggunakan aplikasi SIMPUS J-care yang sudah dapat melakukan proses bridging dengan aplikasi p-care nya BPJS.
       Ikut hadir dalam acara tersebut dari Dinkes Kabupaten Kulon Progo Kepala Seksi Mutu Pelayanan Kesehatan Dwi Ciptorini, SKM, M.Kes dan Kepala Seksi Data dan Teknologi Informasi Kesehatan Taviv Supriadi, ST, dan Direktur CV. Kinaryatama Raharja, Raharja, ST.
       Taviv dalam paparannya menyampaikan berbagai latar belakang dipilihnya aplikasi SIMPUS J-care yang digunakan oleh puskesmas adalah dengan akan diberlakukannya Kapitasi Berbasis Kenerja Pelayanan (KBK) oleh fihak BPJS Kesehatan pada tahun 2017 sementara itu adanya keterbatasan SDM, apalagi mulai tahun 2012 ada moratorium penerimaan PNS sehingga fungsi-fungsi ketugasan tersebut harus dapat digantikan oleh penggunaan Teknologi Informasi. Sebagai contoh kalau sebelumnya entri data pasien harus dilakukan dua kali dengan aplikasi yang berbeda, maka dengan aplikasi J-care cukup entri sekali sudah masuk pada database aplikasi SIMPUS maupun P-care BPJS. Demikian juga setiap awal bulan biasanya petugas puskesmas harus menyetorkan file backup ke Dinkes Kabupaten Kulon Progo, maka dengan sistem ini tinggal upload laporan ke Aplikasi SIMPEDU (Sistem Pelaporan Terpadu) yang ada pada server Dinkes, bahkan kedepan fungsi ini akan digantikan dengan fungsi bridging antara SIMPUS J-care dengan SIMPEDU sehingga data pasien masing-masing puskesmas secara real time dapat dipantau pada Aplikasi SIMPEDU. "Kemarin sistem bridging dengan SIMPEDU ini sudah diujicobakan di Puskesmas Sentolo I dan berhasil namun masih dievaluasi oleh fihak pengembang aplikasi", lanjut Taviv.
       Taviv menyampaikan rencana pengembangan ke depan untuk pelayanan di Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling, Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo telah mengusulkan alokasi dana untuk pengadaan aplikasi SIMPUSTU bridging dengan P-care BPJS, dalam pelaksanaannya aplikasi ini cukup diinstal pada laptop yang dilengkapi dengan modem untuk koneksi internet maka entri data pasien di Puskesmas Pembantu maupun Puskesmas Keliling langsung terkirim ke Aplikasi P-care BPJS sedangkan ke Aplikasi SIMPUS di Puskesmas Induk dilakukan dengan mekanisme backup dan restore data, baru kemudian di kirim via online ke SIMPEDU Dinkes.
       Tentang perkembangan penggunaan Aplikasi SIMPUS Bridging ini menurut rencana, target di tahun 2016 sejumlah 21 puskesmas di Kabupaten Kulon Progo sudah melaksanakan sistem bridging, namun sampai dengan bulan November ini masih ada tiga puskesmas yang belum. Dari tiga puskesmas tersebut menurut Taviv, dari hasil klarifikasi dua puskesmas akan melaksanakan awal Desember 2016 ini sementara satu puskesmas belum memberi kepastian, kemungkinan awal Januari 2017.
       Dengan penggunaan teknologi informasi ini Taviv berharap tidak hanya sebagai sarana melakukan pencatatan dan pelaporan saja, namun juga dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat contohnya seperti untuk memotong waktu tunggu pasien.
       Salah satu yang menarik perhatian peserta kaji banding dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul adalah Anjungan Pendaftaran Mandiri (APM), hal ini setelah mendapatkan penjelasan langsung oleh petugas pendaftaran Vidha Surya Wulan  Agustin, SKM yang didampingi Kepala Sub Bagian Tata Usaha Puskeskesmas Pengasih I Arif Mustofa, SKM, MPH. Keberadaan APM ini merupakan sarana terpadu pendaftaran pasien yaitu dapat berfungsi sebagai mesin antrian saja khususnya bagi pasien yang baru pertama kali berkunjung ke puskesmas. Sedangkan bagi pasien yang sudah pernah berkunjung ke puskesmas APM dapat difungsikan sebagai anjungan pendaftaran mandiri hanya dengan menaruh kartu kunjungan ke perangkat barcode yang menyatu dengan APM, secara otomatis akan muncul nama, alamat, maupun penjamin dari pasien tersebut sekaligus langsung dapat memilih poli yang dituju menggunakan layar sentuh. Selain menggunakan barcode pendaftaran mandiri ini juga bisa mengetik kode rekam medis yang ada pada kartu kunjungan.
       Yang tidak kalah menarik dari sistem antrian ini, panggilan kepada pasien selain menggunakan perangkat audio juga dilengkapi dengan display antrian yang terpampang pada layar TV dilengkapi juga dengan media promosi kesehatan pada sebagian space lainnya.
       APM ini sudah terintegrasi dengan SIMPUS sehingga petugas rekam medis tinggal memonitor lewat layar komputer dan mencari kartu status pasien untuk diserahkan ke poli yang dituju. Dengan demikian petugas pendaftaran maupun petugas poli saat memanggil pasien tinggal klik pada layar monitor pada komputer yang ada di masing-masing ruangan. Dalam proses ini tentu tidak lepas dengan proses verifikasi kepesertaan khususnya bagi pasien dengan kepesertaan BPJS baik mandiri maupun penerima bantuan iuran.
       Arif menambahkan, penggunaan aplikasi SIMPUS J-care ini sebenarnya sudah dapat dilakukan secara paperless, karena semua yang dicatat berkaitan dengan rekam medis sudah difasilitasi dengan sistem tersebut termasuk rujukan eksternal, rujukan internal bahkan jenis permintaan pemeriksaan laboratorium oleh fihak Medis dapat dicentang sesuai pilihan dan fihak laboratorium setelah melakukan pemeriksaan tinggal memasukkan hasilnya dalam sistem. Demikian juga dalam peresepan obat fihak medis tinggal mengisikan resep dan fihak pemberi layanan obat/apotek tinggal membaca dalam sistem untuk selanjutnya memberi layanan sesuai resep yang ada pada sistem.
       Raharja selaku pengembang menyampaikan, di fihaknya penggunaan APM di Kabupaten Kulon Progo ini merupakan yang pertama kalinya diterapkan di Puskesmas atau bahkan bisa di Indonesia juga baru di Kulon Progo. Yang ada sebelumnya mesin antrian dan panggilan masih terpisah secara manual belum terintegrasi dengan SIMPUS. Hal ini juga dibenarkan oleh Arif Ka Sub Bag TU Puskesmas Pengasih I ketika berusaha mencari via google search yang didapatkan baru ada di rumah sakit.
       Semenjak menggunakan aplikasi SIMPUS bridging ini, Puskesmas Pengasih I telah menerima kunjungan yang ketiga kalinya dimana sebelumnya pada tanggal 9 November rombongan dari WHO, UNICEF, Kemenkes bersama SIMKES UGM, tanggal 15 November dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan Jawa Timur dimana pada kedua kesempatan tersebut diterima langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, dr. Bambang Haryatno, M.Kes. (TvS).

Kirim | Versi Cetak


"Berita" Lainnya

   Sistem Informasi       

   Persuratan       

   PROFIL KESEHATAN