Polling       

Jika anda sakit, kemana anda berobat ?

 

   Agenda Kegiatan       

« Oct 2014 »
M S S R K J S
28 29 30 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31 1
2 3 4 5 6 7 8

   Statistik Situs       

Visitors :528066 Org
Hits : 1214805 hits
Month : 4900 Users
Today : 300 Users
Online : 12 Users

   Login       


Username
Password

Register
Forgot Password

   SMS CENTER       


   Cuaca Yogya       

   Video Kemenkes       

   BANK DATA LOKAL       

Link ini hanya bisa diakses pada Jaringan Lokal Dinkes Kulon Progo

   ADDME-SEO       

Balita Gizi Buruk Tidak Selalu Karena Kurang Makan

Selasa, 6 November 2012 12:16:51 - oleh : Nurul

Jika kita mendengar kata balita gizi buruk mungkin yang terbayang dalam benak kita adalah anak yang kurus sekali yang tubuhnya tinggal tulang belulang yang terbungkus dengan kulit. Memang tidak salah karena anak seperti dalam bayangan itu memang jelas berstatus gizi buruk, namun persepsi ini kurang tepat karena anak balita yang berstatus gizi buruk tidak hanya yang kurus-kurus saja tapi juga balita yang tidak kurus namun bertubuh pendek.

Ada tiga indikator yang digunakan dalam menentukan status gizi balita.

Indikator pertama sebagai sarana deteksi dini di Posyandu adalah Berat Badan menurut Umur seperti yang ada pada KMS dalam buku KIA. Dalam indikator ini ada empat kategori yaitu status gizi lebih, baik, kurang dan buruk. Balita yang masuk dalam status gizi buruk berarti berat badannya tidak sesuai (sangat kurang) dengan usianya. Indikator yang kedua adalah Berat Badan menurut Tinggi badan yang dikelompokkan dalam empat kriteria yaitu kurus sekali/sangat kurus, kurus, normal dan gemuk. Indikator ini digunakan untuk menyaring balita hasil saringan indikator pertama, balita yang harus segera ditangani, para praktisi gizi menyebut balita yang sangat kurus adalah balita gizi buruk yang sebenarnya. Sedangkan indikator yang ketiga adalah Tinggi Badan menurut Umur yang terbagi dalam empat kriteria yaitu pendek sekali, pendek, normal dan tinggi. Gizi buruk yang termasuk pada indikator ketiga ini adalah untuk mengetahui masalah gizi kronis.


Timbulnya masalah gizi buruk dilatarbelakangi oleh banyak faktor yang dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor langsung dan faktor tak langsung. Faktor langsungnya adalah kurangnya asupan makan dan infeksi penyakit. Penyakit yang diderita balita bisa menyebabkan anak menjadi gizi buruk, sebaliknya anak yang kurang gizi mudah jatuh sakit.
Faktor tak langsung yang menyebabkan timbulnya balita gizi buruk adalah pola asuh yang salah, kemiskinan, lingkungan, akses terhadap pelayanan kesehatan, budaya seperti mitos-mitos yang keliru dalam praktek pemberian makan serta masalah sosial.
Melihat banyaknya faktor yang melatarbelakangi masalah gizi buruk diatas maka upaya penanggulangan tidak hanya menyangkut sektor kesehatan saja, banyak sektor lain yang harus ikut berperan dalam mengatasi masalah lain.
Upaya yang dilakukan dinas kesehatan antara lain upaya pencegahan, deteksi dini dan intervensi masalah.
Pencegahan yang dilakukan mulai anak itu belum dilahirkan yaitu dengan memberikan suplementasi pada ibu hamil serta penyuluhan dan konseling gizi dengan sasaran remaja putri, calon pengantin dan ibu hamil. Pencegahan ini ditujukan agar para calon ibu tahu bagaimana caranya untuk hidup sehat dan menjaga kehamilannya kelak.
Deteksi dini dilakukan di Posyandu tiap bulan, jika ditemukan balita tidak naik berat badannya selama dua bulan bertutut-turut maka kader akan merujuk balita tersebut ke puskesmas terdekat. Selain pemantauan pertumbuhan di posyandu oleh kader, juga dilakukan pemantauan SDIDTK (Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang) yaitu pemantauan tumbuh kembang oleh petugas kesehatan yang dilakukan minimal empat kali pada bayi (0-12 bulan) dan dua kali pada anak balita (1-5 tahun). Jika dalam pemantauan SDIDTK ditemukan kelainan tumbuh kembang bisa langsung dirujuk ke rumah sakit untuk mendapat terapi yang diperlukan.
Sedangkan intervensi masalah ditujukan pada balita yang sudah mengalami gizi kurang dan gizi buruk, antara lain dengan perawatan medis di rumah sakit bila balita gizi buruk sudah parah atau disertai penyakit serius. Sementara untuk balita gizi kurang dan gizi buruk yang tidak berat diberikan makanan tambahan minimal selama tiga bulan.
Upaya lainnya yang dilakukan untuk menangani masalah ini adalah dengan pendirian TFC (Teraputic Feeding Centre). Di TFC ini balita gizi buruk diberikan terapi nutrisi dan stimulasi tumbuh kembang, sedangkan orangtuanya dididik dalam pengetahuan gizi dan praktek pemberian makan pada anaknya. Saat ini di DIY baru Kota Yogyakarta yang mempunyai TFC yang mereka beri nama RPG (Rumah Pemulihan Gizi) dan Kabupaten Kulon Progo dan Gunung Kidul baru akan mulai tahun ini dalam mendirikan TFC.

Kirim | Versi Cetak


"Artikel" Lainnya